Sawahlunto, Kliksumbar – Sawahlunto kembali menjadi ruang perjumpaan antara langkah dan sejarah.
Pada Minggu, 25 Januari 2026, sekitar 70 pegiat walking tour dari berbagai daerah di Sumatra Barat berkumpul di Museum Goedang Ransum.
Mereka tidak sekadar berjalan santai, tetapi menyusuri jejak masa lalu Kota Sawahlunto, kota tambang yang sejak 6 Juli 2019 ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Kegiatan bertajuk Walking Tour Napak Tilas Jalur Kereta Api Warisan Dunia Sawahlunto ini digagas Komunitas Sumatra Train bersama Ikatan Uda Uni Kota Sawahlunto.
Pemerintah Kota Sawahlunto turut memberikan dukungan penuh.
Pembukaan kegiatan berlangsung di halaman Museum Goedang Ransum dan dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto, Guspriadi.
Ia mengajak seluruh peserta menjadikan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam menjaga cagar budaya serta merawat ingatan kolektif kota.
Museum Goedang Ransum menjadi titik awal perjalanan.
Bangunan bersejarah ini dahulu berfungsi sebagai dapur umum yang menyuplai makanan bagi ribuan pekerja tambang.
Dari lokasi tersebut, peserta melangkah menuju Museum Situs Lubang Tambang Batubara Soero dan Museum Tambang Batubara Ombilin.
Jalur ini seakan membuka kembali kisah panjang industri tambang yang membentuk Sawahlunto.
Rute perjalanan kemudian melewati sejumlah bangunan bersejarah lain, seperti Hotel Khas Ombilin, Gereja Santa Barbara, kawasan Pasar Remaja, Gedung Pegadaian, hingga Gedung Pek Sin Kek.
Setiap titik merekam cerita tentang pertemuan budaya, aktivitas ekonomi, dan dinamika sosial masyarakat masa lalu.
Di Taman Silo, peserta berhenti sejenak untuk mendengarkan penjelasan mengenai sistem industri tambang serta peran jalur kereta api dalam perkembangan kota.
Kepala Bidang Kesenian, Sejarah, dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Sawahlunto, Syukri, S.Sn, menyebut Museum Kereta Api Sawahlunto sebagai salah satu lokasi yang paling menarik perhatian.
Di tempat ini, lokomotif legendaris Mak Itam menjadi simbol kejayaan transportasi batubara pada masanya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Masjid Agung Sawahlunto dan berakhir di Lobang Kalam, terowongan kereta api yang dahulu menjadi jalur distribusi batubara menuju pelabuhan.
“Dengan kontribusi sebesar Rp30.000, peserta tidak hanya mendapatkan makan siang dan tiket museum gratis. Mereka juga memperoleh pengalaman sejarah yang mendalam, dipandu oleh pemandu dan narasumber yang menyampaikan cerita secara hidup dan kontekstual,” ujar Syukri.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk memahami regulasi Pemajuan Kebudayaan sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian cagar budaya.
Setelah Sawahlunto ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO di Baku, Azerbaijan, tanggung jawab menjaga dan menghidupkan warisan tersebut menjadi tugas bersama.
Walking tour ini menegaskan bahwa sejarah tidak cukup disimpan dalam arsip atau museum.
Ia perlu diceritakan kembali, dilalui, dan dirasakan. Saat perjalanan berakhir, kelelahan memang terasa, namun cerita tetap hidup.
Rel-rel tua Sawahlunto kembali bersuara, dilalui oleh langkah-langkah yang percaya bahwa sejarah akan terus bernapas selama masih ada yang mau menelusurinya. (***)











