Oleh: Prof. Elfindri, Akademisi Unand

Saya penasaran dengan Turret Cafe yang ditulis oleh om Ridwan Tulus yang berlokasi di kampung China Bukittinggi. Akhirnya saya datang bukan cafenya yang menarik bagi saya, namun pengalaman Uni Ita dalam menyampaikan pengalaman beliau selama 40 tahun berkecimpung dengan urusan wisata.

Sebagaimana pengalaman om Ridwan Tulus, kali ini Uni Ita juga bercerita banyak tentang pengalaman dalam memajukan wisata di ranah Minang.

Beliau pernah merintis salah satu lokasi di Padang Kunyik Kamang Mudik, mengembangkan “wisata heritage”, dimana keberadaan Padang Kunyik, di atas bukit yang indah, ternyata banyak rumah adat Minangkabau yang telah tua. Konsep awalnya adalah beliau ingin memperbaiki dan menata keberadaan Rumah Gadang, yang ujungnya adalah lahirnya destinasi wisata heritage Rumah Gadang.

Banyak usaha yang telah uni Ita kerjakan, diantaranya mengajak masyarakat, sampai pada terhalangnya dalam pembebasan lahan, dimana masyarakat tempatan tidak mau melepasnya. Bahkan salah seorang petinggi yang berasal dari Kamang, melarang agar kawasan heritage rumah gadang dilarang dikembangkan di lokasi sana.

Saya hubungkan juga dengan upaya Rina, yang mengembangkan penginapan rumah Gadang Nan Tigo di Pinang Balirik, Tanjung Alam, dimana selama tiga tahun pertama rumah gadang sudah ditata lagi, dan tingkat hunian rumah gadang menghasilkan sumber penghasilan yang menjanjikan. Tidak saja oleh pemilik rumah gadang, namun aktifitas turunan wisata tematik yang dijual kepada pendatang.

Salah satunya adalah wisata untuk ikut memanen dan “mairiak” padi di sawah masyarakat.

Wisatawan ikut “mairiak”, makan di lokasi, dan membayar pada pemilik sawah sebagai konsekwensi ikut dalam proses memanen padi. “Experience” itu yang mereka beli.

Pokoknya Rina dalam mengembangkan layanan wisata Rumah Gadang Nan Tigo, sama dengan gagalnya rencana Uni Ita dalam mengembangkan heritage Rumah Gadang di Padang Kunik. Kegagalan Rina justru intervensi keluarga, dan intervensi itu akhirnya wisata rumah gadang nan tigo tutup.

Akar masalahnya dimana?

Informasi yang saya kumpulkan tetap biang gagalnya upaya pengembangan wisata tematik adalah persoalan “mind set” masyarakat tentang wisata itu sendiri. Mind set para stakeholders.

Cara berfikir bahwa wisata tematik akan berjalan baik, jika stakeholders, mereka yang berkepentingan, jangkauan berfikirnya bukan membahagiakan wisatawan, namun berfikiran jangka pendek dan sempit untuk diri sendiri, termasuk salah dalam memandang wisata datang akan merusak kampung. Titik.

Stakeholders itu siapa? Sopir angkutan, tenaga pelayan hotel dan restoran, masyarakat setempat, dan kepala dinas pariwisata, yang mewakili langsung pemerintah daerah.

Sopir angkutan banyak yang tidak paham tugasnya jika mengantar wisatawan, jika Anda pesan Go-Car misalnya, maka Anda akan temukan taxy yang menjawab bersedia, namun pada saat itu masih memiliki penumpang untuk diantar, atau belum siap untuk menjeput. Sikap Arok ternyata tidak tepat. Akhirnya mereka sering lambat datang sesuai dengan pesanan pelanggan. Hampir kebanyakan sopir taxy merokok, kendaraanya tidak lagi terawat, dan mengeluh dalam perjalanan mengantar wisatawan.

Ini bisa diperbaiki dengan cara penetapan standar menjadi sopir taxy, setidaknya memiliki pembawaan “courtacy” dengan penumpang, memiliki sertifikasi, kalau mungkin minimal berpendidikan Sarjana.

Sementara petugas home stay, atau pegawai hotel, juga banyak yang tidak menyadari bahwa mereka akan semakin banyak dibayar ketika layanan mereka adalah memuaskan para pendatang. Disini perlu kebiasaan suka menolong, mengangkat barang, menawarkan jasa dengan baik kepada pengunjung, berpakaian rapi, sampai terbiasa dengan komunikasi yang menyenangkan, kejujuran adalah terpenting.

Semua ini bisa diperbaiki, melalui latihan per tema secara intensif, sebagaimana yang berhasil dilakukan oleh Garuda atau Blue Bird Taxy managemen terhadap karyawan mereka.

Sikap egaliter dan kurang hospitality kebanyakan anak muda Minang bisa membuat terhalangnya percepatan dalam membenahi wisata ini.

Apalagi masyarakat setempat mereka sebaiknya disiapkan berperilaku hidup bersih, menata lingkungan yang cantik, meniadakan premanisme, mengatur berbagai tempat, seperti perparkiran, toilet umum yang bersih, jujur dalam menetapkan harga di daerah kunjungan, menyediakan cendera mata terbaik penataanya, bungkusnya, sampai pembayaran, keterbukaan harga. Berlaku juga untuk restoran dan kedai kedai kopi. Slow food yang bersih diantaranya akan menjadikan daya tarik tersendiri.

Akhirnya bu Ita juga mengeluh peranan kepala dinas, yang sering diangkat selain mereka dekat pensiun dan masa memimpinnya pendek. Semangat memajukan wisata mesti lebih dari waktu ke waktu. ***

*Tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis*

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *