Yogyakarta, Kliksumbar – Di hadapan ratusan peserta Jogja Financial Festival 2026, Sabtu (23/5/2026), suara Dony Oskaria sempat bergetar ketika menyebut satu nama: Chairul Tanjung.

“Saya agak sensitif kalau menyebut nama Pak Chairul Tanjung. Saya selalu terharu, karena beliau adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam hidup saya,” kata Dony di atas panggung, yang langsung disaksikan oleh sang mentor, Chairul Tanjung.

Ruangan mendadak hening. Bukan karena jabatan Dony hari ini sebagai COO Danantara dan Kepala BP BUMN, melainkan karena cerita yang ia bagikan terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.

Dony memulai kisahnya dari sebuah desa kecil bernama Tanjung Alam, Tanah Datar, Sumatera Barat. Ia lahir dalam keluarga sederhana, bahkan tanpa akta kelahiran. Kampung tempatnya tumbuh saat itu belum dialiri listrik dan keluarganya belum memiliki kamar mandi.

Ia terlambat masuk SD karena tubuhnya dianggap belum cukup besar. Saat tes masuk sekolah, tangannya belum mampu menyentuh telinga.

“Kepala sekolah bilang, tahun depan saja,” kenangnya sambil tersenyum.

Masa kecil Dony dihabiskan dengan tidur di surau, salat subuh berjamaah, sekolah, lalu menggembala kambing. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara, ia tumbuh dalam tradisi Minangkabau yang menanamkan tanggung jawab besar terhadap keluarga.

Empat saudara perempuannya berdagang di Tanah Abang. Sementara dirinya menjadi satu-satunya anak yang melanjutkan sekolah.

Perubahan hidup mulai datang ketika ayahnya memutuskan mengirim Dony ke Padang saat kelas lima SD. Sang ayah percaya anaknya harus keluar dari kampung agar memiliki masa depan lebih baik.

Sejak saat itu, Dony hidup mandiri.

“Dari situ saya merasa tidak boleh gagal,” ujarnya.

Perjalanan hidupnya terus berpindah. Dari Padang ke Jakarta saat SMP, lalu kembali ke Sumatera Barat untuk kuliah akuntansi di Universitas Andalas. Namun satu tahun kemudian ia memilih pindah ke jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran.

Kuliah belum selesai ketika kebutuhan hidup memaksanya bekerja di Jakarta. Pekerjaan pertamanya jauh dari bayangan seorang petinggi perusahaan. Ia memasang billboard di jalan tol.

“Saya naik ke jembatan-jembatan tol untuk memasang papan reklame,” katanya.

Setelah itu, ia diterima sebagai operator telepon di Bank Universal, bank yang dulu dikenal sebagai Bank Pembangunan Asia. Posisi itu kini dikenal sebagai call center.

Setiap hari Dony berangkat dari Ciledug menuju Setiabudi dengan perjalanan panjang: naik becak, angkot, Metro Mini, lalu berganti kendaraan lagi menuju kantor.

Jam kerjanya dimulai pukul enam pagi dan sering berakhir pukul sebelas malam.

Namun di tengah kerasnya hidup, Dony menyimpan mimpi besar.

“Walaupun hanya bekerja di call center, saya sudah berpikir suatu hari harus menjadi CEO,” tuturnya.

Kesempatan besar datang ketika perusahaan menggelar program service championship. Seluruh pegawai call center dan customer service mengikuti tes.

Dony keluar sebagai juara pertama.

Dari sana kariernya melesat cepat. Ia dipromosikan menjadi customer service, lalu naik menjadi supervisor, centralized operation head, credit card head, hingga Assistant Vice President hanya dalam waktu lima tahun.

Menurut Dony, keberhasilan itu bukan semata keberuntungan.

“Kesuksesan terjadi ketika preparation bertemu dengan opportunity,” katanya.

Baginya, persiapan yang matang akan menemukan jalannya sendiri ketika kesempatan datang.

Momentum besar berikutnya hadir saat krisis moneter 1998. Bank Universal merger menjadi Bank Permata. Di saat bersamaan, Dony menerima tawaran menggiurkan dari HSBC sebagai Regional Operation Head.

Fasilitas yang ditawarkan sangat besar. Mulai dari transfer fee hampir Rp1 miliar, pinjaman rumah puluhan kali gaji, hingga fasilitas rumah sakit VVIP.

Namun Dony justru mengambil keputusan yang dianggap tidak masuk akal.

Ia memilih mencari Chairul Tanjung.

Saat itu, Bank Mega tengah berkembang pesat lewat kampanye “Mega Berbagi”. Dony melihat peluang yang dulu pernah ia rasakan saat Bank Universal sedang bertumbuh.

Ia yakin masa depannya ada di sana.

Masalahnya, sang adik sudah lebih dulu bekerja di Bank Mega. Aturan perusahaan tidak memperbolehkan anggota keluarga berada dalam satu kantor yang sama.

Dony kemudian membujuk adiknya untuk pindah kerja.

Ia bahkan memberikan Rp25 juta sebagai “pesangon” agar sang adik bersedia keluar dari Bank Mega.

“Kadang sukses memang membutuhkan pengorbanan,” katanya.

Keputusan itu membuatnya rela turun jabatan dan menerima gaji jauh lebih kecil dibanding tawaran HSBC. Namun ia tidak menyesal.

Pilihan itu justru menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya.

Di lingkungan CT Corp, Dony mengaku mendapat kesempatan belajar luar biasa langsung dari Chairul Tanjung. Ia pernah memegang berbagai posisi, mulai dari operation, IT, corporate secretary, service quality, kepala wilayah, direktur bank, hingga direktur utama di sejumlah perusahaan.

“Kalau ditanya siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya, jawabannya adalah Pak Chairul Tanjung,” ucapnya. Lirih ucapannya, dengan air mata yang tergenang, bangga dan haru.

Di penghujung cerita, tepuk tangan panjang menggema di ruangan. Bukan semata karena jabatan yang kini disandang Dony Oskaria, tetapi karena perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa mimpi besar bisa lahir dari kampung kecil, dari surau sederhana, bahkan dari seorang operator telepon yang setiap hari pulang larut malam demi mengejar masa depan. (***)

Penulis: Gilang Gardhiolla GusveroEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *