Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan
Jika kata orang, kita belum mengenal romantisnya Jawa kalau belum ke Bandung. Kalimat itu awalnya terdengar seperti promosi wisata biasa. Namun setibanya di kota ini, saya mulai memahami bahwa Bandung memang menyimpan romantisme dengan caranya sendiri.
Udara sejuk menyambut sejak langkah pertama. Di hampir setiap sudut kota, kedai kopi berdiri berdampingan, menghadirkan beragam suasana, dari konsep homies, vintage, hingga ruang-ruang modern yang dipenuhi anak muda.
Bandung terasa hidup, namun tidak tergesa. Orang-orang berjalan santai, saling menyapa dengan tutur kata yang halus, membuat pendatang seperti saya cepat merasa akrab.
Bandung bukan kota yang lahir tiba-tiba. Dahulu wilayah ini merupakan Danau Bandung Purba, terbentuk akibat letusan gunung berapi ribuan tahun lalu sebelum akhirnya menjadi dataran subur tempat masyarakat Sunda berkembang.
Pada 25 September 1810, Bupati R.A. Wiranatakusumah II memindahkan pusat pemerintahan ke lokasi Bandung sekarang atas perintah Herman Willem Daendels, menandai lahirnya Bandung sebagai kota modern.
Sejak masa kolonial, kota ini tumbuh dengan arsitektur Eropa dan mendapat julukan “Paris van Java”, sebelum kemudian mengukuhkan identitasnya sebagai kota perjuangan melalui peristiwa Bandung Lautan Api 1946.
Namun romantisme Bandung tidak hanya tersimpan dalam sejarahnya, melainkan pada manusia yang menghidupkannya. Dalam perjalanan menuju penginapan, seorang pengemudi ojek online bernama Anto Julianto bercerita tentang kebiasaan warganya.
“Kalau di sini, jarang ada yang klakson panjang di jalan. Semua sabar dan saling menghargai,” ujarnya sambil menyusuri jalanan kota.
Kemacetan memang tak terhindarkan di hari kerja, tetapi suasananya terasa berbeda. Lalu lintas tetap bergerak teratur, tanpa hiruk-pikuk suara klakson yang berlebihan. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Seolah kota ini berjalan dalam ritmenya sendiri.
Kesejukan Bandung juga terasa ketika saya mengunjungi Orchid Forest Cikole di kawasan Lembang. Di antara deretan pinus yang ditanam sejak 1971, udara terasa begitu bersih dan ringan.
Kawasan seluas 12 hektare yang mulai dibuka pada 2017 itu menghadirkan pengalaman berjalan di tengah hutan tanpa kehilangan sentuhan modern.
Saat menarik napas panjang, saya memahami mengapa banyak orang menyebut tempat ini sebagai paru-paru alami Bandung.
Malam hari menghadirkan wajah lain kota ini. Pilihan tak pernah habis. Mulai dari sekadar ngopi santai hingga berjalan menikmati keramaian. Bagi saya, Jalan Braga menjadi tempat yang selalu memanggil untuk kembali.
Penyanyi jalanan mengisi ruang dengan musik akustik, lukisan-lukisan terpajang di tepi jalan, sementara kafe-kafe tua mempertahankan nuansa klasik yang sulit ditemukan di kota lain.
Pada akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya. Bandung bukan hanya tentang destinasi, melainkan tentang rasa yang ditinggalkan setelah perjalanan usai.
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”, memang benar adanya.
Dan Bandung meninggalkan jejak hangat yang diam-diam menetap di hati para pengunjungnya.
**Tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis**











