Oleh: Zuhrizul, Pemerhati Wisata Sumatera Barat

Setiap Lebaran setiap Tahun nya selalu saja kita mendengarkan berita-berita negatif tentang kenaikan Harga dan Jasa yang di rasakan oleh para perantau dan warga lokal yang berimbas kepada citra Pariwisata kampung Halaman di berbagai media sosial dan menjadi polemik pro dan kontra .

Beberapa Pihak yang merasa di rugikan akan berusaha menviralkan di medsos sekaligus caci maki di tambah dengan koment baik yang mendukung maupun yang menganggap hal tersebut wajar

Pihak yang kontra menganggap adalah sangat wajar di saat lebaran berlaku hukum ekonomi dimana di saat permintaan lebih besar dari penawaran maka harga akan naik ..

Nah penulis sebagai Penggiat wisata Sumbar merasa prihatin dengan kondisi Bullyan sekaligus juga tidak membenarkan tindakan kenaikan harga yang berlebihan dan tidak wajar

Memang ada benarnya di saat permintaan besar tentu secara ekonomi harga barang menjadi lebih mahal dari biasanya dan juga jasa misalnya ketika lebaran konsumen harus membayar tiket hingga 2x lipat harga hari biasa begitu juga hotel-hotel di setiap daerah akan menaikan harga , namun anehnya kenaikan harga tiket pesawat , hotel restaurant yang kadang gila-gilaan tidak menjadi heboh dapat di maklumi dan seolah dapat di terima semua pihak sementara kenaikan parkir, makanan warung-warung kecil dan tiket masuk objek wisata menjadi heboh bahkan mencitrakan orang- orang kecil yang mencari nafkah di saat masyarakat lainnya menikmati hari raya bergembira mereka di bully dan di caci maki bahkan wajahnya di videokan untuk di viralkan dan lebih parah lagi menyimpulkan bahwa karakter orang kampung halaman yang tukang palak , tukang pakuak dan mengganggap pemerintah gagal membangun kesadaran wisata di kampung halaman dengan membandingkan dengan wisata daerah lain bahkan luar negeri sementara pemilik pesawat dan hotel yang juga menaikan harga gila – gilaan tak pernah di protes

Menurut penulis hal-hal seperti ini tidak perlu terjadi seandainya ada pemahaman yang sama dan berimbang , namun dengan catatan kenaikan harga dan jasa juga tidak terlalu berlebihan , semisal harga parkir yang biasa 3.000 adalah sangat wajar kalau naiknya menjadi 5.000 , harga mie rebus yang biasa 10.000 menjadi 15.000 yang akan lebih baik di sampaikan di awal atau adanya pelayanan tambahan seperti keramah tamahan dan tidak berlaku kasar ke setiap pengunjung .

Bukan berarti sebuah pembenaran namun adalah suatu kewajaran dimana di saat orang berlebaran mereka masih mau menjaga mobil kita, di saat orang berlebaran mereka masih buka kedai demi mencari nafkah tahunan dan jelas bukan untuk mencari kaya seperti pemilik pesawat yang naikan harga hingga 2,3 kali lipat

Penulis berharap mencitrakan pariwisata kampung halaman dengan hal-hal seperti ini juga tidak baik di saat Sumbar mulai berbenah pasca bencana kembali bangkit di saat pertumbuhan ekonomi menyentuh 3.19 % berat bagi Sumbar di tengah kemiskinan dan pengangguran semakin meningkat

Adalah kemiskinan dan pengangguran lah yang membuat masyarakat kita tetap berjualan di saat orang berlebaran , dan menjadi tukang parkir di saat orang berlebaran semoga menjadi sadakah bila pengunjung / perantau dengan ikhlas membayar lebih untuk nafkah keluarga mereka

Namun tetap penulis berharap kepada seluruh pelaku usaha wisata tetap melayani wisatawan lebaran dengan baik, ramah agar citra wisata Sumbar tidak tercoreng yang berakibat malasnya wisatawan ke Sumbar akibat viral ke seantero dunia masaalah kenaikan parkir 3.000 atau Indomie rebus 5.000 … Sangat naif sekali

Kepada masyarakat dan wisatawan perantau penulis berharap teruslah promosikan hal-hal baik kampung halaman kita agar kembali bangkit dari kemiskinan pasca bencana yang tentu jika wisata Sumbar citra positif anak kemenakan kita juga yang akan merasakan dampak ekonominya ke depan , bahwa pariwisata akan berdampak terhadap sektor usaha lainnya baik pertanian , peternakan , bergairahnya pasar dan data beli masyarakat , semoga (opini)

*Semua isi tulisan tanggung jawab penulis*

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *