Pesisir Selatan, Kliksumbar – Anggota Komisi IV DPR RI Rahmat Saleh menyoroti lambannya pelaksanaan proyek irigasi tersier di Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan.
Ia menilai keterlambatan tersebut berpotensi merugikan petani.
Rahmat menyampaikan keprihatinan itu saat melakukan peninjauan lapangan ke sepuluh titik irigasi tersier.
Kunjungan tersebut berlangsung pada Senin (15/12/2025).
Hasil peninjauan menunjukkan sebagian besar pekerjaan belum berjalan optimal.
Menurut Rahmat, kondisi tersebut mengindikasikan lemahnya pelaksanaan program irigasi.
Padahal, proyek itu seharusnya menopang sektor pertanian masyarakat.
Terlebih, waktu pelaksanaan telah mendekati akhir tahun anggaran.
Rahmat menilai keterlambatan proyek irigasi bertentangan dengan tujuan pembangunan infrastruktur pertanian.
Ia menjelaskan bahwa irigasi tersier berfungsi menyalurkan air langsung ke lahan sawah.
Oleh karena itu, keterlambatan pembangunan akan berdampak langsung pada pola tanam petani.
“Fungsi irigasi tersier sangat menentukan produktivitas petani. Jika pengerjaannya terlambat, dampaknya langsung terasa,” ujar Rahmat.
Ia menambahkan bahwa petani akan menghadapi ketidakpastian jadwal tanam.
Kondisi tersebut juga berpotensi menurunkan hasil panen.
Menurutnya, persoalan irigasi tidak dapat dipandang sebagai masalah teknis semata.
Rahmat menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan irigasi tersier adalah memastikan ketersediaan air sawah.
Ia menilai proyek tersebut harus selesai tepat waktu agar manfaatnya dirasakan petani.
“Kalau proyek ini dibiarkan mangkrak, maka petani yang paling dirugikan,” kata Rahmat.
Rahmat menjelaskan bahwa seluruh proyek irigasi tersier berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai Sumatera Barat.
Ia menegaskan bahwa BWS memiliki tanggung jawab penuh terhadap perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan.
Selain di Pancung Soal, Rahmat menyebut proyek irigasi tersier juga tersebar di wilayah lain.
Secara keseluruhan, terdapat 20 titik irigasi di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Dharmasraya.
Rahmat menyampaikan bahwa hingga pertengahan Desember, proyek-proyek tersebut belum menunjukkan progres signifikan.
Akibatnya, petani belum dapat memanfaatkan irigasi secara optimal.
Ia mengkritik lemahnya perencanaan dan pengawasan proyek di lapangan.
“Sudah mendekati akhir tahun, tetapi banyak pekerjaan belum berjalan maksimal. Petani patut dikasihani,” ujar Rahmat.
Rahmat memastikan akan membawa persoalan tersebut ke tingkat pusat.
Ia akan meminta penjelasan dari kementerian dan pihak terkait.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah percepatan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kejelasan tanggung jawab pelaksana proyek.
Dengan begitu, irigasi tersier dapat benar-benar mendukung produktivitas pertanian masyarakat. (***)











