Jakarta, Kliksumbar – Rencana pengaktifan kembali tambang batubara Ombilin di Sawahlunto kembali menguat setelah Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, meminta percepatan realisasi proyek tersebut pada tahun 2026.

Kebijakan ini dinilai berpotensi membuka lapangan kerja baru sekaligus menggerakkan kembali ekonomi daerah.

Informasi terbaru menyebutkan PT Bukit Asam (PTBA) tengah menyelesaikan berbagai tahapan perizinan untuk membuka kembali tambang batubara Ombilin.

Sebelumnya, aktivitas tambang direncanakan mulai pada 2027, namun percepatan diminta agar operasional dapat dimulai lebih cepat.

“Sekarang (2026) saja,” ujar Dony Oskaria di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Direktur Operasional PTBA, Ilham Yacob, menjelaskan perusahaan memang sedang menyiapkan dokumen penting sebelum aktivitas pertambangan kembali berjalan.

Proses tersebut meliputi perizinan, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), serta feasibility study (FS).

“Benar ada rencana kita mau aktifkan kembali tambang di Ombilin. Saat ini sedang proses perizinan, AMDAL, serta feasibility study. Dokumen ini sangat penting karena tanpa itu aktivitas tidak bisa dilakukan. Jika sudah dibuka, ekosistem ekonomi akan terbentuk dan memberikan dampak ekonomi yang baik,” jelas Ilham Yacob.

Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menambahkan kegiatan penambangan hanya dapat dilakukan setelah seluruh dokumen teknis dan persetujuan pemerintah terpenuhi.

Dokumen tersebut mencakup aspek teknis operasional, analisis biaya, kesiapan tenaga kerja, legalitas, regulasi, serta lingkungan.

Ia menyebutkan pembukaan kembali tambang Ombilin berpotensi menyerap sedikitnya 1.000 tenaga kerja, baik pada tambang terbuka maupun tambang bawah tanah.

Kehadiran aktivitas pertambangan diharapkan mampu menghidupkan kembali pergerakan ekonomi lokal di Sawahlunto.

Menurut Eko Prayitno, potensi cadangan tambang terbuka di Ombilin mencapai sekitar 2 juta ton, sementara tambang bawah tanah diperkirakan memiliki cadangan hingga 100 juta ton.

Tambang batubara Ombilin sendiri merupakan salah satu tambang tertua di Indonesia yang aktivitasnya menurun tajam dalam 25 tahun terakhir.

Penurunan aktivitas tambang sebelumnya menyebabkan banyak pekerja meninggalkan kota, sehingga Sawahlunto sempat dikhawatirkan kehilangan basis ekonomi utamanya.

Karena itu, rencana reaktivasi tambang dinilai menjadi harapan baru bagi masyarakat dan dunia usaha di Sumatera Barat.

Sejumlah rencana pembukaan tambang sebenarnya pernah muncul pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan sempat menarik minat investor asing.

Namun, berbagai kendala administrasi dan investasi membuat rencana tersebut belum terealisasi hingga kini.

Dorongan percepatan yang disampaikan COO Danantara dinilai memberi angin segar bagi daerah yang masih membutuhkan perluasan lapangan kerja.

Selain itu, aktivitas pertambangan juga diyakini dapat kembali mendorong pertumbuhan ekonomi Sawahlunto yang secara historis berkembang dari sektor tambang.

Secara historis, deposit batubara Ombilin pertama kali ditemukan oleh peneliti Belanda Willem Hendrik de Greve pada periode 1867–1868.

Temuan tersebut kemudian diperkuat oleh ahli geologi Hindia Belanda R.D.M. Verbeek yang mencatat total cadangan batubara Ombilin mencapai sekitar 200 juta ton.

Pemerintah Hindia Belanda secara resmi membuka tambang Ombilin pada 28 Desember 1891 melalui keputusan pemerintah tahun 1892.

Pembukaan tambang saat itu turut mendorong pembangunan jaringan kereta api, Pelabuhan Emmahaven (Teluk Bayur), serta kawasan industri Indarung yang menjadi awal industrialisasi di Sumatra’s Westkust.

Warisan infrastruktur tersebut masih dimanfaatkan hingga sekarang dan menjadi fondasi perkembangan industri di Sumatera Barat. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *