Aceh, Kliksumbar – Lumpur masih menempel di tepi jalan Pasar Kuala Simpang.
Warnanya cokelat pekat, mengering perlahan di bawah matahari pagi.
Di sela genangan yang belum sepenuhnya surut, roda sepeda motor melintas hati-hati.
Jalanan itu bukan sekadar jalur lalu lintas.
Bagi warga Aceh Tamiang, jalan adalah harapan untuk kembali hidup normal.
Bantuan pascabanjir memang terus mengalir.
Listrik sudah menyala.
Jaringan komunikasi mulai stabil.
Namun, bagi warga, pemulihan belum benar-benar terasa selama jalan dan jembatan belum kembali layak.
Seorang bapak di Pasar Kuala Simpang berdiri di depan kios yang masih berbau lumpur.
Tangannya menunjuk ke arah jalan kampung yang rusak.
“Kami bersyukur listrik sudah menyala dan jaringan mulai pulih,” ujarnya lirih.
“Sekarang kami butuh perbaikan jalan kampung dan jembatan,” jelasnya.
Jalan itu menghubungkan rumah ke pasar.
Tanpa akses tersebut, roda ekonomi sulit bergerak.
Warga harus memutar jauh. Ongkos naik. Waktu terbuang.
Di sudut lain pasar, Al duduk di depan rumah yang masih lembap.
Dindingnya berbekas genangan. Lantai belum sepenuhnya kering.
“Kami masih butuh banyak bantuan,” ujar Al.
“Rumah kami saja belum terurus dengan baik,” tambahnya.
Meski begitu, kehidupan pelan-pelan bangkit.
Pasar kembali ramai.
Pedagang kecil membuka lapak seadanya.
Di sebuah pertigaan, seorang ibu muda menjajakan air tebu.
Ampas tebu menggunung di samping gerobaknya.
Pembeli datang silih berganti.
Pemandangan itu menjadi tanda.
Warga memilih bergerak, meski dengan keterbatasan.
Mereka keluar dari pengungsian.
Ada yang berbelanja kebutuhan harian.
Ada pula yang sekadar melihat kondisi kota kecil mereka yang sempat terendam.
Namun, lumpur masih menjadi cerita utama.
Sejumlah ruas jalan belum bersih.
Alat berat masih mondar-mandir.
Suara mesin menggema dari pagi hingga sore.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mulai menyiapkan langkah lanjutan.
Kepala BP BUMN turun langsung meninjau lokasi terdampak.
Bersama pemerintah daerah, ia membahas solusi jangka menengah, terutama soal hunian.
Bupati Aceh Tamiang mengusulkan pembangunan hunian sementara.
Lokasinya berada di lahan milik BUMN.
Rombongan telah meninjau langsung area tersebut.
“Hunian sementara menjadi kebutuhan mendesak bagi warga,” ujar salah satu pejabat saat peninjauan.
“Lokasi tanah BUMN sedang kami kaji,” jelasnya.
Di lapangan, petugas terus bekerja.
Mereka menyemprot lumpur, mengangkat puing, dan membuka akses.
Namun, keterbatasan peralatan menjadi tantangan.
“Kami butuh tambahan alat berat dan mobil pemadam,” ujar seorang pekerja lapangan.
“Mesin pengering juga dibutuhkan untuk perabot rumah tangga,” tambahnya.
Bagi warga Aceh Tamiang, pemulihan bukan sekadar soal bantuan.
Jalan yang pulih berarti pasar kembali hidup.
Jembatan yang berdiri kokoh berarti anak-anak bisa sekolah lagi.
Di atas aspal yang bersih, harapan perlahan ingin tumbuh kembali. (***)











