Jakarta, Kliksumbar – Jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, Mohammad Dawam menyoroti pentingnya arah kepemimpinan baru PBNU. Ia menilai calon Ketua Umum PBNU mendatang harus belajar dari empat model kepemimpinan yang pernah mewarnai organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Menurut Dawam, setiap ketua umum memiliki karakter dan warisan berbeda. Karena itu, kepemimpinan baru perlu menggabungkan nilai terbaik dari masing-masing era.
“Empat generasi kepemimpinan PBNU telah meninggalkan karakter dan warisan besar pada zamannya masing-masing. Itu bisa menjadi arah kebijakan bagi kepemimpinan NU ke depan,” tulis Dawam dalam opini yang diterima wartawan, Kamis (28/5/2026).
Gus Dur dan Kedekatan dengan Warga NU
Dawam menilai kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi simbol kedekatan PBNU dengan akar rumput.
Menurutnya, Gus Dur aktif membangun komunikasi langsung dengan warga NU hingga lapisan terbawah. Ia juga kerap hadir dalam pengajian kampung dan ziarah ke tokoh NU di berbagai daerah.
“Gus Dur tidak sekadar mengkritik pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat kecil, tetapi juga rutin turun ke masyarakat,” tulisnya.
Dawam menyebut pendekatan humanis tersebut membuat warga NU memiliki hubungan emosional yang kuat dengan organisasi.
Hasyim Muzadi Tinggalkan Warisan Diplomasi
Selain itu, Dawam menilai kepemimpinan KH Hasyim Muzadi unggul dalam manajemen organisasi dan diplomasi kebangsaan.
Ia mengatakan hubungan harmonis antara NU, Muhammadiyah, dan berbagai kelompok lintas agama berkembang kuat pada masa tersebut.
“Hasyim Muzadi berhasil membangun hubungan harmonis di internal maupun eksternal organisasi,” katanya.
Dawam juga menyoroti keberadaan International Conference of Islamic Scholars (ICIS). Menurutnya, forum tersebut menjadi bukti kontribusi NU dalam membangun perdamaian dunia.
Era Said Aqil Fokus Pendidikan dan SDM
Kemudian, Dawam menilai era KH Said Aqil Siroj menitikberatkan pembangunan sumber daya manusia.
Pada masa itu, berbagai kampus NU berkembang. Selain itu, jaringan rumah sakit NU bertambah dan program beasiswa kader ke luar negeri semakin diperkuat.
Menurut Dawam, langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi kemajuan organisasi.
“Peningkatan kualitas kader menjadi modal penting bagi masa depan NU,” ujarnya.
Gus Yahya Perkuat Tata Kelola Organisasi
Sementara itu, kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dinilai berhasil menghadirkan pembaruan tata kelola organisasi.
Dawam menyebut sistem administrasi satu pintu membuat organisasi lebih tertib, terukur, dan akuntabel.
“Manajemen satu pintu membuat tata kelola organisasi lebih terkontrol dan profesional,” katanya.
Meski lebih birokratis, Dawam menilai sistem tersebut penting untuk menjaga profesionalisme kelembagaan NU.
Ketum PBNU Baru Harus Gabungkan Empat Kekuatan
Dawam menegaskan kepemimpinan PBNU berikutnya harus mampu menggabungkan seluruh keunggulan dari empat era tersebut.
Ia menilai NU perlu menjaga tradisi sekaligus membuka ruang inovasi untuk menghadapi tantangan baru.
Selain itu, PBNU perlu memperkuat kerja sama dengan pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia internasional.
Dawam juga mendorong kader terbaik NU mengisi berbagai posisi strategis negara. Menurutnya, langkah itu penting agar NU terus memberi kontribusi nyata bagi bangsa.
“NU harus hadir memberikan kontribusi nyata melalui kader yang memiliki kapasitas, integritas, dan meritokrasi,” tutup Dawam. (***)











