Jakarta, Kliksumbar – Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda, mendesak BMKG segera memperbaiki sistem peringatan dini bencana yang rusak di berbagai daerah.
Desakan itu disampaikan saat Rapat Dengar Pendapat bersama BMKG dan Basarnas di Jakarta, Selasa, (20/5/2026) di Jakarta. Rapat tersebut membahas evaluasi pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2026.
Zigo menilai kerusakan alat early warning system sangat membahayakan masyarakat. Terutama, daerah rawan gempa dan tsunami di Sumatera Barat.
Menurutnya, banyak alat deteksi gempa dan tsunami tidak lagi berfungsi optimal. Informasi itu diperoleh langsung dari perwakilan BMKG di lapangan.
“Hal paling mengkhawatirkan adalah kondisi di Sumatera Barat,” kata Zigo dalam rapat tersebut.
Ancaman Patahan Aktif di Sumbar
Selain itu, politisi Partai Golkar tersebut menyoroti ancaman patahan aktif di Sumbar. Wilayah itu dilintasi sejumlah sesar berbahaya.
Beberapa patahan aktif yang disebut antara lain Patahan Sumani, Sianok, hingga Siulak. Namun, sosialisasi kepada masyarakat dinilai masih minim.
Zigo menegaskan edukasi mitigasi bencana harus diperkuat. Sebab, masyarakat perlu memahami risiko gempa besar sejak dini.
“Wilayah ini dilintasi Patahan Sumani, Sianok hingga Siulak. Namun, sosialisasinya belum maksimal,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah harus bergerak cepat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Selain itu, alat mitigasi bencana wajib dipastikan berfungsi.
Zigo Soroti 9 Temuan BPK di BMKG
Dalam rapat tersebut, Zigo juga menyinggung temuan Badan Pemeriksa Keuangan tahun 2024.
Ia mengungkapkan masih ada sembilan temuan BPK yang belum diselesaikan BMKG hingga sekarang.
Karena itu, Komisi V DPR RI meminta penjelasan terbuka kepada publik terkait kendala penyelesaiannya.
“Masih terdapat sembilan temuan BPK 2024 yang belum diselesaikan BMKG,” tegasnya.
Selain itu, ia meminta BMKG menjelaskan langkah konkret untuk menuntaskan persoalan tersebut.
Mentawai Butuh Alat Komunikasi Darurat
Zigo juga membawa aspirasi masyarakat Kepulauan Mentawai dan daerah blank spot lainnya.
Ia meminta Basarnas memperhatikan kebutuhan alat komunikasi darurat bagi wilayah minim sinyal.
Menurutnya, alat komunikasi sangat penting saat terjadi bencana alam. Terutama, untuk mempercepat koordinasi evakuasi dan penyelamatan warga.
“Kami meminta pengadaan alat komunikasi darurat bagi daerah yang sulit sinyal,” tutupnya. (***)











