Jakarta, Kliksumbar – Suara mesin tambang pernah menjadi denyut utama Kota Sawahlunto. Selama puluhan tahun, batubara Ombilin bukan sekadar komoditas energi, tetapi sumber kehidupan yang membentuk wajah kota kecil di jantung Sumatera Barat itu. Namun ketika aktivitas tambang meredup sekitar dua dekade terakhir, perlahan ekonomi ikut melambat dan kekhawatiran akan masa depan kota pun muncul.

Kini, harapan lama itu kembali menguat.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, secara tegas meminta percepatan pengaktifan kembali tambang batubara Ombilin. Jika sebelumnya operasional direncanakan dimulai pada 2027, ia justru mendorong agar tambang kembali beroperasi pada tahun 2026.

“Sekarang (2026) saja,” ujar Dony Oskaria di Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Instruksi tersebut menjadi sinyal kuat bagi kebangkitan kembali tambang legendaris yang pernah menjadikan Sawahlunto sebagai pusat industri batubara di Indonesia. Saat ini, PT Bukit Asam (PTBA) tengah menuntaskan berbagai proses perizinan sebagai tahap awal sebelum aktivitas pertambangan dimulai kembali.

Direktur Operasional PTBA, Ilham Yacob, menjelaskan perusahaan sedang menyelesaikan dokumen penting yang menjadi syarat utama operasional tambang, mulai dari perizinan, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), hingga Feasibility Study (FS).

“Benar ada rencana kita mau aktifkan kembali tambang di Ombilin, saat ini sedang proses perizinan dan AMDAL serta feasibility study. Dokumen ini sangat penting, tanpa itu aktivitas tidak bisa dilakukan. Jika sudah dibuka, ekosistemnya akan terbentuk dan punya dampak ekonomi yang bagus,” jelas Ilham Yacob.

Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menambahkan aktivitas penambangan hanya dapat dilakukan setelah seluruh dokumen teknis dan persetujuan pemerintah terpenuhi. Proses tersebut mencakup aspek teknis operasional, analisis biaya, kesiapan tenaga kerja, hingga kepatuhan terhadap regulasi dan lingkungan.

Jika tambang kembali dibuka, Ombilin diperkirakan mampu menyerap sedikitnya 1.000 tenaga kerja, baik pada tambang terbuka maupun tambang bawah tanah. Angka tersebut menjadi harapan baru bagi masyarakat Sumatera Barat yang masih membutuhkan perluasan lapangan pekerjaan.

Menurut Eko Prayitno, potensi tambang terbuka di Ombilin mencapai sekitar 2 juta ton, sementara tambang bawah tanah diperkirakan menyimpan cadangan hingga 100 juta ton batubara. Namun di balik angka tersebut, tersimpan sejarah panjang sebuah kota yang tumbuh dan pernah hampir kehilangan identitasnya.

Sejak aktivitas tambang menurun tajam sekitar 25 tahun lalu, banyak pekerja meninggalkan Sawahlunto. Kota yang dahulu hidup dari industri tambang sempat dikhawatirkan berubah menjadi kota mati. Berbagai rencana reaktivasi pernah muncul, bahkan investor asing sempat datang, namun seluruhnya belum berhasil terealisasi.

Karena itu, dorongan percepatan dari COO Danantara dinilai menjadi momentum baru. Reaktivasi tambang tidak hanya berbicara soal produksi energi, tetapi juga tentang menghidupkan kembali ekosistem ekonomi yang dahulu menopang kehidupan masyarakat.

Sejarah Ombilin sendiri bermula pada penemuan deposit batubara oleh peneliti muda Belanda, Willem Hendrik de Greve, pada periode 1867–1868. Temuan tersebut kemudian diperkuat oleh ahli geologi Hindia Belanda, R.D.M. Verbeek, yang mencatat total cadangan batubara Ombilin mencapai sekitar 200 juta ton, tersebar di Parambahan, Sungai Durian, dan Lurah Gadang.

Pemerintah Hindia Belanda resmi membuka tambang Ombilin pada 28 Desember 1891 melalui keputusan pemerintah tahun 1892. Aktivitas pertambangan saat itu memicu pembangunan jaringan kereta api, pembukaan Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur, hingga berdirinya industri semen di Indarung. Rangkaian pembangunan tersebut menjadi awal industrialisasi di kawasan Sumatra’s Westkust.

Warisan infrastruktur itu masih terasa hingga kini. Bahkan sejumlah industri besar di Sumatera Barat berkembang dari fondasi ekonomi yang dibangun pada masa kejayaan tambang Ombilin.

Kini, lebih dari satu abad sejak pertama kali dibuka, tambang tua itu kembali berada di persimpangan sejarah. Jika rencana aktivasi berjalan sesuai arahan, Sawahlunto berpeluang kembali mendengar denyut lama yang pernah menghidupkan kotanya, suara aktivitas tambang yang membawa harapan baru bagi ekonomi daerah. (***)

Penulis: Gilang Gardhiolla GusveroEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *