Takengon, Kliksumbar – Rian, pria itu, kembali menatap layar HP-nya. Tak ada kabar apa pun dari Takengon sana.
Kekasihnya, perempuan bermata teduh itu, yang dokter muda, yang mengungsi karena banjir, justru dilamun banjir sekali lagi.
“Sedih, Bang,” katanya di Medan, Rabu, (31/12/2025).
Ini kisah jatuh tertimpa tangga yang dialami dokter muda Icha, yang koas di RS Unand, Padang.
Begini kisahnya:
Icha sedang koas di RS Unand, tinggal di Perumahan Lumin Park, Lubuk Minturun. Lalu, di bawah langit yang berat dan hitam, ketika hujan tak berhenti, datanglah banjir.
Icha ketakutan. Takut yang tak bisa ia uraikan lagi. Menangis bukan jalan keluar. Dokter muda ini berusaha menyelamatkan diri.
Ketika pagi tiba, ia sudah tak melihat mobilnya.
Perumahan itu, sehabis banjir, sudah tak berbentuk. Lumpur di mana-mana.
Diungsikan
———————
Hanya yang melekat di badan. Mobilnya ternyata terkubur lumpur. Namun bukan itu. Ia lumpuh dalam pikiran ketika kedua orang tuanya di Lut Tawar, Takengon, sama sekali tak bisa dikontak.
Ketika itulah ia runtuh. Derai air matanya adalah aliran dari jendela hati dan jiwa yang gundah.
“Orang tua Icha tidak ada kabar,” katanya, berkabar kepada kawannya.
Kawannya juga gulana. Tak banyak bisa membantu.
Tiap sebentar ia mencoba menelepon, tapi kawan Takengon, Aceh Tengah, lebih remuk dihantam banjir lumpur.
Enam hari setelah banjir di Padang, Icha risau. Tak bisa ke mana-mana. Padahal, ingatannya hinggap di rumah masa kecilnya. Ia rindu ibunya, yang kasih sayangnya sedalam samudra, sesejuk rimba raya.
Hari ketujuh, ia berhasil ikut terbang ke Medan dengan Hercules. Badannya nyaris tak terurus. Begitu sampai, rumah masih sangat jauh.
Ia dibantu untuk sampai ke Takengon. Perjalanan belum sampai. Ia mesti berjuang lagi pulang ke rumah. Sejauh apa pun sebelumnya seseorang pergi, rumah adalah pautan rindu.
Dan rumah itu, tempat ia tumbuh, bukan lagi rumah. Hanya lumpur di mana-mana. Seisi rumah tertimbun. Juga kamar dan foto-foto masa kecilnya.
Di mana kedua orang tua Icha? Pengungsian!
Mereka bertemu. Peluk paling erat, tangis paling dalam, sekarang terjadi. Anak gadisnya di Ranah Minang pulang dalam keadaan compang-camping.
“Sudah makan, Nak?” Nah, kan, orang tua selalu begitu. Ia memeriksa sekujur tubuh anaknya. Sang bapak, jamaknya pria di Aceh, menahan sedihnya, tapi satu dua air matanya jatuh. Ia menyembunyikannya. Pria di mana pun tak mau berduka di hadapan anaknya.
Pergi dari Padang yang diterjang banjir, pulang ke Aceh, jadi pengungsi. Di bawah tenda, rumah masih penuh lumpur. Icha sekarang justru masih belum bisa dikontak.
Kekasihnya, Rian, hanyut dalam rindu dan sedih. “Icha,” gumamnya. Pria itu di Medan, terpaut jauh dari lokasi pengungsian Icha.
Ingin ia menjunjung alat berat ke sana, tapi tidak. Mustahil.
Yang tak mustahil, setelah ini, HP salah satu dari mereka akan berdering, entah Icha atau Rian yang menelepon.
Banjir kadang menguji cinta sekuat apa.
Starlink menjadi penghubung Rian dan Icha, itu pun tidak sepanjang waktu. Cepat pulih, Takengon, lekas bangkit, Tamiang. (***)











