Bogor, Kliksumbar – Sofi, seorang anak dari Nusa Tenggara Timur, membuat haru peserta Retret PWI di Pusat Kompetensi Bela Negara, Kemhan RI, Jumat (30/1/2026).
Dalam videonya, Sofi menulis surat, “Beta tahu Bapak sibuk urus negara… tapi masih pikirkan kami bersekolah,” ujar Sofi.
Pesan sederhana ini menunjukkan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Sejak awal pemerintahan, Presiden Prabowo menegaskan pembangunan sekolah berasrama sebagai solusi strategis memutus rantai kemiskinan.
Setiap tahun, pemerintah menargetkan mendirikan 100 unit sekolah berasrama yang dikenal sebagai Sekolah Rakyat (SR).
Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono, menjelaskan, SR merupakan program prioritas Presiden untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem dari 2,8 persen saat ini menjadi nol persen.
“PWI harus ikut membersamai agar target kemiskinan ekstrem tercapai,” jelasnya.
Program ini bertujuan meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak miskin yang sebelumnya putus sekolah.
Agus menegaskan, SR menggunakan sistem boarding unggulan seperti Taruna Nusantara.
Sekolah ini dikhususkan bagi anak-anak miskin dan tidak menerima siswa dari keluarga mampu.
Pemerintah membiayai pendidikan setiap anak sekitar Rp 4 juta per tahun.
Selain itu, pemerintah menghadirkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memetakan kemiskinan secara menyeluruh.
Agus menjelaskan, DTSEN mengatasi data terfragmentasi antar kementerian dan pemerintah daerah.
Data ini menjadi dasar pengambilan keputusan untuk intervensi sosial yang tepat sasaran.
Hingga Maret 2025, pemerintah telah mendirikan 166 titik SR dengan 16.000 siswa, 1.500 guru, dan 8.400 tenaga pendidikan.
Tahun ini, target pemerintah meningkat menjadi 200 titik.
“SR ini bukti nyata komitmen Presiden memuliakan anak-anak miskin. Pendidikan mereka harus berkualitas, dan karakter mereka kuat,” jelasnya.
Program SR juga menekankan pendidikan karakter dan nasionalisme.
Pemerintah menggandeng TNI dan Polri untuk membentuk disiplin dan karakter berbangsa.
“Target Presiden adalah tidak ada diskriminasi pendidikan pada anak. Mereka dididik tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berjiwa kebangsaan,” Tambah Agus.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap SR menjadi solusi jangka panjang menurunkan kemiskinan.
Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga memastikan sekolah ini berjalan efektif dan tepat sasaran. (***)











