Jakarta, Kliksumbar – Sastrawan Indonesia Denny JA menerima undangan khusus dari Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, di Kedutaan Besar Rusia, Kuningan, Jakarta, Kamis (13/2).

Pertemuan tersebut berlangsung setelah Denny JA meraih Penghargaan Sastra BRICS di Kairo beberapa waktu lalu.

Denny JA memperoleh penghargaan kategori Sastra Inovasi BRICS karena kontribusinya memperkenalkan genre puisi esai sekaligus mempromosikan nilai kemanusiaan dan perdamaian melalui karya sastra.

Selain itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional atas kiprah sastra Indonesia di panggung global.

Dalam pertemuan itu, Sergei Tolchenov menegaskan peran strategis sastra sebagai sarana diplomasi budaya antarnegara.

“Sastra adalah bahasa universal yang dapat menyatukan kita semua. Sastra menjembatani komunikasi antarnegara dengan bahasa damai dan tidak menyebabkan perang dunia. Kita harus menguatkan Global South dari ketimpangan dunia melalui sastra,” ujar Sergei Tolchenov.

Selanjutnya, Dubes Rusia menilai karya sastra mampu membangun kesepahaman lintas budaya di tengah dinamika geopolitik global.

Ia juga mengapresiasi kontribusi Denny JA dalam memperluas pengaruh sastra Indonesia.

“Karya-karya Denny JA telah menunjukkan komitmennya dalam mempromosikan nilai kemanusiaan dan perdamaian,” jelasnya.

Karya Denny JA, termasuk Atas Nama Cinta, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menarik perhatian komunitas sastra dunia.

Melalui puisi esai, Denny JA secara konsisten mengangkat isu keadilan sosial dan hak asasi manusia.

Dalam sambutannya, Denny JA menyampaikan rasa syukur atas dukungan Rusia terhadap BRICS Award untuk Sastra.

Ia menilai investasi pada kebudayaan merupakan langkah penting di tengah dunia yang sering mengukur kekuatan melalui ekonomi dan teknologi.

Menurut Denny JA, sastra memiliki peran mendasar dalam membela martabat manusia di tengah ketegangan global.

Ia menegaskan bahwa manusia pada dasarnya adalah pembawa kisah sebelum menjadi warga negara suatu bangsa.

Penghargaan sastra, lanjutnya, tidak sekadar merayakan bakat, tetapi juga menjaga martabat bahasa dan kemanusiaan lintas negara BRICS, mulai dari Brasil, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Rusia hingga Indonesia.

Selain itu, Denny JA mengusulkan agar BRICS Award untuk Sastra memiliki fondasi dana abadi agar mampu bertahan lintas generasi.

Ia mencontohkan Nobel Prize yang berdiri sejak 1901 melalui pengelolaan dana investasi warisan Alfred Nobel serta Booker Prize yang berkembang melalui dukungan yayasan dan sponsor korporasi.

“Sastra membutuhkan ketahanan, bukan hanya perayaan,” ujar Denny JA.

Menanggapi hal tersebut, Sergei Tolchenov menyatakan dukungannya terhadap penguatan literasi negara-negara Global South.

“Negara-negara di Global South memiliki kekayaan sastra yang luar biasa, namun publikasinya masih didominasi oleh sastra Barat,” tambahnya.

Denny JA menyambut positif pandangan tersebut dan berharap kerja sama sastra antara Indonesia dan Rusia dapat terus berkembang.

Penulis sekaligus juri BRICS Indonesia, Dikdik Sadikin, juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan literasi kawasan Selatan Global.

“Kita memiliki kekayaan sastra yang luar biasa dan perlu terus didorong agar dikenal dunia,” ujar Dikdik Sadikin.

Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan pertukaran cendera mata dan sesi foto bersama yang diikuti sejumlah pegiat sastra BRICS Indonesia. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *