Padang, Kliksumbar – Satu tahun lamanya Pison Kogoya menabung.

Lembar demi lembar uang ia masukkan ke celengan miliknya di Papua Pegunungan.

Mimpinya sederhana, khas anak gunung.

Natal tahun ini, ia ingin turun ke Jayapura.

“Mau lihat Pantai Amai, mau minum air kelapa muda, mau main di Danau Sentani,” katanya polos.

Liburan Natal seharusnya menjadi hari paling indah baginya.

Untuk pertama kalinya, ia membayangkan laut biru dan angin pantai yang belum pernah ia lihat.

Namun, rencana kecil itu runtuh oleh sebuah berita di televisi.

Pison melihat rumah-rumah di Sumatera hanyut diterjang banjir bandang.

Orang-orang kehilangan pakaian, kehilangan tempat berteduh, dan kehilangan rasa aman.

Ia terdiam.

Di hati kecilnya, mimpi tentang pantai dan es kelapa tiba-tiba terasa tidak penting lagi.

Dengan suara lirih dan mata bertanya, ia menoleh ke gurunya.

“Bapak… rumah hanyut-hanyut itu, mereka tidur di mana?”

Pertanyaan polos itu menampar nurani orang dewasa.

Detik itu juga, keputusan besar lahir dari hati seorang bocah.

“Bapak Guru, ini sumbangan untuk Sumatera. Saya tidak jadi ke Jayapura.”

Celengan yang ia tabung itu dibuka.

Tabungan Rp1,5 juta hasil menahan keinginan selama setahun ia serahkan tanpa ragu.

Pison rela tidak melihat laut, asalkan saudaranya di seberang pulau bisa makan, bisa tidur, dan tidak lagi menangis.

Ia ikhlas membatalkan liburan Natalnya demi orang-orang yang tak pernah ia kenal.

Empati tak mengenal usia.

Persaudaraan tak mengenal jarak ribuan kilometer atau batas pulau.

Terima kasih, Pison.

Hatimu lebih luas dari samudera yang belum sempat kau lihat itu.

_________________________________________

**Bahan bersumber dari Instagram @ruang.dialog.co yang sudah di edit oleh redaksi**

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *