Jakarta, Kliksumbar – Ragam gagasan kebudayaan dari berbagai penjuru Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Kalimantan hingga Papua, mewarnai penetapan penerima Trofi Abyakta pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Sepuluh kepala daerah dan tiga wartawan senior dinyatakan layak menerima penghargaan tersebut setelah melalui proses penilaian Anugerah Kebudayaan (AK) PWI Pusat.

Penetapan penerima dilakukan usai para kepala daerah mempertahankan proposal kebudayaan masing-masing di hadapan Dewan Juri AK PWI Pusat pada 9 Januari 2026. Dari sepuluh kepala daerah yang lolos, tiga di antaranya mengikuti presentasi secara daring karena tidak dapat meninggalkan daerahnya lantaran urusan keluarga, penanganan bencana alam di Sumatra, serta agenda adat setempat.

“Mereka berhak menerima Trofi Abyakta pada puncak peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Banten, 9 Februari 2026 mendatang,” ujar Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Selain kepala daerah, Trofi Abyakta juga diberikan kepada tiga wartawan senior bersama komunitas yang mereka bina. Ketiganya adalah Rahmi Hidayati, mantan wartawan Bisnis Indonesia, dengan komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia; Seno Joko Suyono, mantan wartawan Tempo, bersama komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival; serta Nenri Nurcahyo, mantan wartawan Surabaya Post, dengan komunitas Panji.

Yusuf Susilo Hartono menjelaskan, Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menambah satu kategori baru, yakni wartawan bersama komunitasnya. Sebelumnya, penghargaan ini hanya diberikan kepada kepala daerah setingkat bupati dan wali kota. Program Anugerah Kebudayaan PWI Pusat telah digelar sejak HPN 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan berlanjut pada HPN 2020 di Banjarmasin, HPN 2021 di Ancol Jakarta, HPN 2022 di Kendari, serta HPN 2023 di Medan.

Beragam gagasan budaya diangkat para penerima penghargaan. Wali Kota Malang, Jawa Timur, Wahyu Hidayat, mengusung Malang sebagai kota kreatif sejajar dengan 59 kota dunia versi UNESCO. Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setyawan, menampilkan kiprah kesenian Kuda Lumping Temanggung yang didorong menembus panggung internasional.

Wali Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, H. Mohan Roliskana, mengangkat Gerbang Sangkareang sebagai landmark dan inspirasi baru kota. Wali Kota Samarinda, Kalimantan Timur, H. Andi Harun, mempresentasikan sarung tenun sebagai transformasi wastra lokal menuju pusaka nasional.

Dari wilayah timur Indonesia, Bupati Manggarai, NTT, Heribertus Geradus Laju Nabit, menampilkan program revitalisasi Mbaru Gendang atau rumah adat berbasis gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. Bupati Blora, Jawa Tengah, H. Arief Rohman, mengangkat aktualisasi ajaran Samin sebagai spirit pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Bupati Lampung Utara, Hamartoni Ahadis, menampilkan tarian tradisi Cangget Bakha sebagai media pertemuan generasi muda di bawah cahaya bulan purnama. Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Hj. Maya Hasmita, mengusung Gema Sahabat atau Gerakan Empati Masyarakat sebagai penguatan karakter dan budaya sejak dini.

Bupati Padang Pariaman, Sumatera Barat, H. John Kenedy Azis, mempresentasikan revitalisasi sejumlah tradisi religius melalui wajah baru Maulik Gadang. Adapun Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou, mengangkat Festival Teluk Doreh sebagai sarana penguatan harmoni sosial dan toleransi yang dinilai penting bagi masyarakat Papua. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *