Tanah Datar, Kliksumbar – Bayangkan sebuah sekolah dengan luas lahan 23 hektare dan kapasitas 3.000 siswa. Sekolah itu kini hadir di Nagari Tanjung Alam, Tanah Datar.

Namanya Sekolah Rakyat (SR). Proyek tersebut membawa investasi sekitar Rp1,5 triliun ke kampung yang berada di Kecamatan Tanjung Baru itu.

Angkanya memang besar. Apalagi, Tanjung Alam hanya dihuni 9.187 jiwa berdasarkan data penduduk 2020.

Artinya, kapasitas SR nantinya hampir setara sepertiga jumlah penduduk nagari.

Tanjung Alam sendiri merupakan ibu kota Kecamatan Tanjung Baru. Lokasinya juga berada tidak jauh dari Batusangkar, Payakumbuh, dan Bukittinggi.

Mimpi Anak Rantau Kembali ke Kampung

Ada cerita menarik di balik hadirnya SR terbesar Indonesia di Tanjung Alam.

Putra asli nagari tersebut, Dony Oskaria, menjadi salah satu sosok penting dalam proyek ini. Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, menyebut ada mimpi besar Dony untuk kampung halamannya.

“Beliau punya mimpi menjadikan nagari asalnya, Tanjung Alam sebagai desa yang sejahtera,” kata Anton di Tanjung Alam, Sabtu (8/8/2026).

Dony lahir dan tumbuh di Gantiang Bawah, Tanjung Alam. Masa kecilnya tidak jauh dari kehidupan anak kampung.

Ia bermain bola, pergi ke sawah, mengaji, dan beraktivitas di sekitar nagari.

Teman masa kecilnya, Erman, masih mengingat sosok Dony ketika bersekolah.

Erman mengenang Dony sebagai ketua kelas sekaligus siswa berprestasi.

“Tidak bisa kami mengalahkannyo doh,” kata Erman.

Saat kelas IV, Dony pindah sekolah ke Padang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan dan merantau hingga menjalankan amanah besar di Jakarta.

Kini, ia kembali membawa proyek pendidikan besar ke kampungnya.

Lahan 23 Hektare untuk Kawasan Pendidikan

SR Tanjung Alam berdiri di atas lahan 23 hektare milik keluarga besar Dony Oskaria.

Proses penyerahan lahan mengikuti mekanisme adat dan hukum negara. Niniak mamak, kaum, dan warga pemilik ulayat ikut dalam musyawarah.

Luas 23 hektare membuat kawasan SR terasa seperti sebuah kampus. Di dalamnya terdapat sekolah, asrama, dan berbagai fasilitas pendukung.

Sebagai gambaran, luas kampus UNP Air Tawar sekitar 34 hektare.

Ada fakta lain yang membuat cerita lahannya menarik.

Prof. Kurnia Warman menyebut tanah ulayat Sumbar terus mengalami penyusutan. Dari 543 nagari induk, hanya 219 yang masih memiliki tanah ulayat.

Di Tanjung Alam, masyarakat mengarahkan tanah tersebut untuk kepentingan pendidikan.

3.000 Siswa Bisa Menggerakkan Ekonomi

SR bukan sekolah biasa. Program ini menyediakan pendidikan gratis bagi anak dari keluarga miskin.

Negara juga menanggung asrama, makanan, seragam, buku, dan layanan kesehatan.

Secara nasional, 166 titik SR sudah beroperasi di 34 provinsi. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut mencapai 200 titik pada 2027.

SR Tanjung Alam menjadi titik terbesar dengan kapasitas 3.000 siswa.

Jumlah siswa yang besar tentu membutuhkan kebutuhan harian yang besar pula.

Dapur sekolah diperkirakan menyiapkan 9.000 porsi makanan setiap hari. Belanja dapurnya diperkirakan mencapai Rp3 miliar hingga Rp4 miliar per bulan.

Sekolah juga membutuhkan ratusan guru dan tenaga pendukung.

Efeknya bisa terasa sampai ke luar pagar sekolah. Transportasi, laundry, fotokopi, perdagangan, hingga kebutuhan pangan akan ikut bergerak.

Perputaran uang diperkirakan mencapai sekitar Rp5 miliar setiap bulan. Nilainya berpotensi mencapai Rp55 miliar hingga Rp70 miliar per tahun.

Petani, peternak, pedagang, pelaku UMKM, hingga tukang ojek berpotensi ikut merasakan dampaknya.

Satu sekolah, tetapi aktivitas ekonominya bisa menyentuh banyak sektor.

Tanjung Alam Berpeluang Jadi Titik Pertumbuhan Baru

Kehadiran SR juga tidak berdiri sendiri.

Dony berencana membangun taman hutan seluas sekitar 15 hektare. Kawasan tersebut akan menjadi objek wisata dalam satu hamparan dengan SR.

Sejumlah fasilitas nagari juga masuk dalam rencana pembenahan.

Fasilitas tersebut mencakup masjid, pasar, kantor wali nagari, dan kantor KAN. Lapangan olahraga juga menjadi bagian dari rencana pembangunan.

Bagi Dony, SR memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar membangun gedung sekolah.

“Ini untuk memutus rantai anak kelompok rentan agar bisa bersekolah seperti yang lain.”

“Negara mesti hadir untuk anak bangsa,” kata Dony.

Dengan kapasitas 3.000 siswa, SR akan membawa aktivitas baru ke Tanjung Alam.

Pendidikan menjadi titik awalnya. Setelah itu, roda ekonomi berpotensi ikut bergerak.

Bagi Tanjung Alam, proyek Rp1,5 triliun ini bukan sekadar soal bangunan.

Ada pendidikan, lapangan kerja, perdagangan, UMKM, hingga peluang wisata yang ikut menunggu.

Dan semuanya bermula dari sebuah sekolah di kampung halaman seorang anak rantau. (***)

Penulis: Gilang Gardhiolla GusveroEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *