Padang, Kliksumbar – Dari Aceh hingga Sumatera Barat, jejak pemulihan perlahan muncul kembali.

Harapan yang sempat runtuh pelan-pelan bangkit, seiring langkah cepat Nindya Karya hadir di titik-titik terdampak bencana.

Negara melalui BUMN ini tidak tinggal diam.

Sehari setelah banjir bandang melanda, tim langsung bergerak, mengukur kerusakan, dan merajut kembali jalur kehidupan warga.

Dukungan itu tidak datang sendirian.

Kolaborasi Nindya Karya bersama Danantara Indonesia membuat percepatan tanggap darurat terasa nyata.

Sinergi keduanya bukan hanya sekadar mengirim bantuan, tetapi juga mengerahkan rekayasa teknis, alat berat, dan tenaga ahli untuk menghidupkan kembali infrastruktur vital yang lumpuh dihantam bencana.

Langkah cepat itu terlihat jelas di Aceh.

Di Kabupaten Pidie, alat berat bekerja sejak pagi membuka jalan yang tertutup lumpur dan kayu besar.

Warga yang terisolasi akhirnya bisa kembali bergerak.

Di Aceh Tamiang, tim menormalkan akses utama Jalan Medan–Aceh, membersihkan area RSUD Tamiang, serta membuka jalur Sungai Liput–Kuala Simpang.

Posko Logistik Nindya Peduli berdiri untuk memastikan bantuan mengalir tanpa henti.

Di Pidie Jaya, pemulihan berlangsung lebih padat.

Rel kereta api yang sebelumnya tertutup lumpur dibersihkan agar perjalanan kembali aman.

Jalur permukiman dan sungai dinormalisasi.

Setiap kayu yang disingkirkan, setiap kubik lumpur yang diangkut, membuat warga merasa sedikit lebih tenang.

Gerak pemulihan itu meluas ke Sumatera Utara.

Di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Posko Nindya Peduli menjadi tempat berlindung sementara bagi keluarga yang kehilangan rumah.

Dapur umum menyediakan makanan hangat, sementara kasur darurat dibagikan ke warga.

Jalan akses darurat dibangun agar bantuan bisa terus masuk tanpa hambatan.

Di sepanjang Sungai Aek Garoga, tim bergerak menyingkirkan batu dan kayu penyumbat aliran.

Mereka membangun tanggul darurat untuk menahan banjir susulan.

Upaya serupa dilakukan di Sungai Siasis.

Warga mulai merasa lebih aman ketika suara air kembali mengalir tanpa hambatan.

Pemulihan juga menyentuh Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.

Bantuan logistik dibagikan, toren air bersih dipasang, dan warga di Medan menerima sembako di titik pengungsian.

Sementara di Sumatera Barat, tepatnya di Kota Padang, depo alat berat diaktifkan sebagai pusat koordinasi untuk mempercepat perbaikan infrastruktur di lapangan.

Direktur Utama PT Nindya Karya, Firmansyah, menegaskan bahwa upaya ini bukan hanya berbicara soal pembangunan fisik.

“Bagi kami, pemulihan bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga memulihkan kembali harapan. Melalui penyaluran bantuan sembako, pelayanan di posko dan dapur umum, hingga kerja nyata di lapangan, kami berupaya memastikan bahwa setiap bantuan benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan,” ujarnya Jumat, (12/12/2025) di Jakarta.

Dari pekerja lapangan hingga relawan, dari alat berat hingga dapur umum, setiap langkah memperlihatkan betapa pemulihan adalah kerja bersama.

Di tengah puing dan lumpur, harapan baru perlahan muncul bagi warga yang sedang bangkit. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *