Padang, Kliksumbar – Pemerintah mempercepat relokasi korban banjir dan longsor di Sumatra untuk memastikan warga segera keluar dari tenda darurat.
Hujan memang reda, tetapi kondisi warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih penuh ketidakpastian.
Tenda yang seharusnya dipakai beberapa hari berubah menjadi hunian sementara tanpa kepastian waktu.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan lanjutan bencana bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.
Rapat tersebut berfokus pada percepatan relokasi dan pemindahan warga ke hunian sementara serta hunian tetap.
“Masyarakat yang tinggal di pengungsian akan dialihkan ke hunian sementara,” ujar Suharyanto.
Ia menegaskan bahwa Satgas TNI–Polri akan membangun huntara di wilayah terdampak.
BNPB melaporkan kerusakan rumah terjadi dalam skala besar, mulai dari rusak ringan hingga hilang tersapu arus.
Pemerintah memilih model huntara seluas 36 meter persegi dengan kamar mandi dan WC agar keluarga dapat hidup lebih layak.
Biaya pembangunan diperkirakan Rp30 juta per unit, dengan target penyelesaian enam bulan.
Model ini sudah dipakai dalam penanganan bencana sebelumnya sehingga dinilai efektif untuk masa pemulihan awal.
Untuk hunian tetap, Kementerian PUPR memegang tongkat komando.
Pemerintah menegaskan bahwa tidak semua warga harus direlokasi.
Rumah yang berada di zona aman akan diperbaiki langsung oleh BNPB.
Pemerintah daerah juga diminta menyediakan lahan cukup luas agar huntara dapat dibangun per unit keluarga.
Namun jika lahan terbatas, pembangunan model barak bisa menjadi opsi untuk mempercepat pemindahan warga dari tenda.
Presiden Prabowo menekankan bahwa hambatan birokrasi tidak boleh menghambat relokasi.
Ia meminta percepatan administrasi pertanahan, termasuk opsi menggunakan lahan HGU.
“Dicek semua. Kalau perlu, HGU bisa dicabut sementara. Ini kepentingan rakyat. Lahan harus ada,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan warga segera pindah ke huntara sebelum menuju hunian tetap.
Relokasi ini menjadi bagian penting pemulihan besar yang dilakukan pemerintah untuk mengembalikan kepastian hidup warga yang kehilangan rumah.
Di balik angka dan rapat teknis, tujuan utamanya tetap sama: menghadirkan kembali ruang hidup yang manusiawi bagi para penyintas bencana di Sumatra. (***)











