FIXSUMBAR,— Sarana media sosial untuk great dan endorse seseorang pad tahun politik semakin ugal-ugalan.

Tapi cuitan dan chat di laman media sosial netizen itu ternyata layak dijadikan perdebatan karena mengungkap fakta.

Seperti narasi diunggah Nasdam Khalid seorang yang mengaku warga Solok Raya, hari ini viral dan menjadi perdebatan di akun banyak warganet. Nasdam nama nya, menarasikan perbandingan tentang Bupati Solok Epyardi dengan Gubernur Sumbar Mahyeldi.

Kedua sosok itu semakin kencang disebut akan bertarung head to head pada Pilkada Provinsi Sumbar pada 27 November 2024.

Apa betul tulisan katanya karya Nasdam yang viral,.itu? berikut lengkapnya (sudah disesuaikan dengan standar jurnalistik):

Epyardi Suaranya Tinggi, Empatinya Tinggi

Nasdam Khalid
(Warga Solok Raya)

Suara-suara lantang Epyardi Asda menghiasi Sumatera Barat 3 tahun belakangan ini, berbagai kesempatan viral sosok Bupati Solok yang sukses menjadi saudagar atau pebisnis minang yang disegani di Indonesia.

Namun sebagian publik luput menyadari bahwa, kelantangan suara Epyardi Asda selalu tertuju kepada elit yang merugikan rakyatnya.

Di urut catatan viral Epyardi, menghiasi media masa maupun akun media sosial selama ini, yaitu:  kemarahannya terhadap petugas Puskemas yang menelantarkan pasien kriti. Kemarahannya karena ratusan anak nagari dipecat perusahaan besar malah perusahaan dibela Gubernur, keberaniannya memecat wali nagari yang ditemukan keliru mengelola keuangan nagari berulang kali.

Viral ketegasannya menghadapi seorang politisi yang komplain istrinya diberhentikan, di mana menurut Bupati, istri politisi itu tak layak mendapatkan posisi, sebab masih ada anak nagari yang membutuhkan.

Jadi, jika dirunut fenomena kelantangan suara dan ketegasan sikap Epyardi Asda, maka kita menemukan benang merah, Kapten atau Epyardi Asda lantang membela hak rakyatnya, tak nampak sekalipun dia marah kepada rakyatnya, Epyardi Asda hanya marah kepada elit-elit yang menghambat langkahnya mensejahterakan rakyat.

Berbeda dengan Mahyeldi, lunak-lunak tetapi pemerintahannya sarat dengan dugaan korupsi, lunak-lunak tetapi diduga tak ada hasil kerja, Sumbar terus menggali lobang menjadi provinsi tertinggal.

Kita rakyat hanya disuguhkan pencitraan gubernur, jika ditanya irit bicara. Irit bicara karena mungkin tak paham apa yang hendak dikerjakan, terpaksa me-angguk-angguk saja.

Jadi… Jika tak sadar untuk berubah, begini-begini saja Sumbar sampai warga nya menua. (adr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *