Padang Pariaman, Kliksumbar – Di tengah kerasnya gelanggang politik Sumatera Barat, Hj. Endarmy muncul bukan sekadar sebagai politisi perempuan, tetapi sebagai sosok yang konsisten dan membumi. Ia hadir dengan langkah panjang yang penuh keteguhan, bukan sorak-sorai politik. Dalam riuhnya parlemen yang sering maskulin, kehadirannya menjadi suara yang menenangkan sekaligus menggetarkan suara perempuan yang bekerja nyata, bukan sekadar berbicara.
Langkah Panjang Srikandi Parlemen
Lahir pada 27 Januari 1965 di Padang Pariaman, Endarmy menapaki dunia politik sejak lama. Ia memulai perjalanan legislatifnya di DPRD Provinsi Sumatera Barat periode 2004–2009, kemudian kembali dipercaya pada periode 2014–2019. Semula berlabuh di Partai Demokrat, kini ia menapaki babak baru bersama Partai NasDem, bahkan dipercaya menahkodai Fraksi NasDem DPRD Sumbar periode 2024–2029. Posisi ini menegaskan kematangan politik dan kepercayaan publik yang telah dirajut bertahun-tahun.
Bukan Sekadar Politisi, Tapi Pengabdi Masyarakat
Sebagai wakil dari Dapil II meliputi Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Hj. Endarmy fokus di Komisi V DPRD, membidangi kesejahteraan rakyat. Di sinilah ia menyalurkan energi dan dedikasinya. Kedekatannya dengan akar rumput membuat namanya bukan sekadar disebut, tetapi diingat. Bahkan, ia sempat menjadi figur perempuan pertama yang menyatakan kesiapan maju sebagai Calon Bupati Padang Pariaman pada tahun 2020.
Pemberdayaan Perempuan sebagai Napas Perjuangan
Isu pemberdayaan perempuan menjadi inti perjuangannya. Hj. Endarmy kerap menegaskan bahwa perempuan bukan pelengkap pembangunan, melainkan penggerak yang sering terlupakan. Suara dan tindakannya memberi ruang lebih bagi perempuan untuk ambil bagian dalam ekonomi dan politik daerah.
Menguatkan UMKM dan Ekonomi Lokal
Selain itu, ia konsisten mengawal kesejahteraan sosial, memastikan pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial benar-benar menyentuh masyarakat. Di sektor ekonomi lokal, terutama UMKM di pesisir Pariaman, Endarmy hadir sebagai penguat. Lewat pembinaan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), ia mendorong masyarakat kecil berdiri di atas kaki sendiri, meski badai ekonomi datang silih berganti.
Bundo Kanduang di Panggung Politik
Di Gedung Njan, Endarmy dikenal vokal dan tegas. Namun di luar rapat, ia menjelma sosok hangat dan mudah dijangkau. Dari acara adat hingga pengajian, dari pertemuan petani hingga kelompok nelayan, kehadirannya menjadi simbol bahwa politik masih punya wajah manusia. Tidak heran jika masyarakat menjulukinya “Bundo Kanduang”, sosok perempuan yang mengayomi, mendengar, dan merangkul, tanpa kehilangan ketegasan sebagai pengambil keputusan.
Politik Sebagai Amanah, Bukan Kekuasaan
Julukan “Srikandi Parlemen” melekat bukan karena retorika, tetapi karena keberaniannya berdiri di barisan masyarakat bawah. Sebagai Wakil Ketua DPW Partai NasDem Sumbar, ia terus merajut konsolidasi politik demi satu tujuan: kemajuan Ranah Minang yang berkeadilan. Bagi Hj. Endarmy, politik bukan soal kekuasaan, melainkan amanah. Selama denyut aspirasi rakyat masih terdengar, langkahnya akan terus melaju menyusuri pesisir Pariaman, menembus ruang kebijakan, dan pulang dengan kerja nyata. (***)









