Padang, Kliksumbar – Ada sesuatu yang berubah di Stadion H. Agus Salim. Bukan hanya warna hijaunya yang kini tampak lebih segar di bawah sorot lampu malam, tetapi juga cara publik memandang stadion yang telah menjadi bagian dari denyut sepak bola Sumatera Barat selama puluhan tahun.
Hujan deras yang mengguyur laga Semen Padang FC kontra Persib Bandung pada Senin malam (5/4) justru menjadi panggung pembuktian. Di saat banyak stadion lain kerap menyerah pada cuaca, lapangan Agus Salim tetap tegak. Bola terus mengalir, permainan tetap hidup, dan yang paling penting, tak ada genangan air yang mengganggu jalannya pertandingan.
Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah stadion diuji.
Lapangan yang baik tidak hanya dinilai dari hijaunya rumput, tetapi dari kemampuannya menjaga ritme pertandingan, memberi rasa aman bagi pemain, dan menghadirkan kenyamanan bagi penonton. Dalam konteks itu, Stadion H. Agus Salim tampaknya sedang berbicara banyak.
Stadion yang diresmikan Presiden ke-2 RI, Soeharto, pada 23 Mei 1983 itu selama ini kerap menjadi sasaran kritik, terutama terkait kualitas lapangan. Namun kini, setelah beberapa kali renovasi, wajahnya perlahan berubah. Rumput terlihat lebih rapi, permukaan lapangan lebih stabil, dan sistem drainase menunjukkan kualitas yang patut diapresiasi.
Pujian publik pun bermunculan. Di media sosial, banyak warganet mengaku terkesan dengan kondisi lapangan yang tetap prima meski hujan turun sepanjang lebih dari 90 menit.
“Walaupun hujan deras selama 90 menit lebih, tidak ada banjir. Pertandingan tetap berjalan dengan baik, itu luar biasa,” tulis salah satu akun media sosial.
Komentar itu mungkin sederhana, tetapi mengandung makna besar: stadion tua ini sedang memulihkan kepercayaan publik.
Bahkan, apresiasi tidak hanya datang dari penonton lokal. Sebelumnya, tim asal Malaysia, PDRM FC, juga sempat memuji kualitas rumput dan drainase Stadion Agus Salim saat menjalani laga uji coba pada November 2024. Ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar persepsi sesaat, melainkan hasil kerja yang mulai terlihat nyata.
Di balik lapangan yang kini menuai pujian, ada kerja teknis yang tidak sedikit. Supomo Hariyadi, salah satu sosok yang terlibat dalam proses renovasi, menegaskan bahwa kualitas lapangan sangat bergantung pada pemilihan jenis rumput dan pola perawatan.
“Kalau renovasi dilakukan dengan benar, menggunakan rumput terbaik, dan dirawat dengan peralatan memadai, hasilnya pasti bagus,” ujarnya, Senin (6/4).
Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: kualitas tidak pernah datang secara instan. Ia lahir dari keseriusan, konsistensi, dan komitmen jangka panjang.
Kini, di bawah pengelolaan Kabau Sirah Production (KSP) sebagai home base Semen Padang FC untuk kompetisi Super League musim 2025/2026, stadion ini tampak bergerak ke arah yang lebih baik.
Direktur KSP, Renol Fadhli, menyambut apresiasi publik dengan rasa syukur, namun tetap menyisakan ruang untuk evaluasi.
“Alhamdulillah, ini hasil dari kerja keras dan komitmen kami dalam merawat sarana dan prasarana olahraga ini,” kata Renol.
Sikap itu menjadi penting. Sebab, stadion berusia lebih dari empat dekade tentu menyimpan banyak pekerjaan rumah.
“Masih banyak yang harus diperbaiki. Yang terpenting kami tetap berkomitmen untuk merawat stadion ini,” tutupnya.
Pada akhirnya, perubahan Stadion H. Agus Salim bukan semata soal rumput yang hijau atau drainase yang bekerja baik saat hujan. Lebih dari itu, ini adalah simbol bahwa fasilitas olahraga yang lama pun masih bisa bangkit ketika dikelola dengan keseriusan.
Dan mungkin, di tengah derasnya hujan malam itu, Agus Salim tidak hanya sedang menjadi venue pertandingan, tetapi juga sedang mengirim pesan: stadion tua ini belum habis. Ia justru sedang menemukan kembali martabatnya. (***)











