Padang, Kliksumbar — PT ALKO Sumatra Kopi mendorong transparansi rantai pasok kopi sebagai langkah strategis meningkatkan kesejahteraan petani. Selama ini, petani dinilai kerap menjual kopi dengan harga rendah karena minim informasi terkait distribusi dan struktur biaya.
Hal itu dikatakan oleh CEO PT ALKO Sumatera Kopi, Suharyono, saat ngopi bareng media di Pangeran Beach Hotel, Kamis (30/4/2026), di Padang.
Menurut Suharyono, selisih harga kopi dari hulu ke hilir sangat besar, namun tidak sepenuhnya dipahami petani.
“Dalam satu rantai distribusi, terdapat banyak komponen biaya, termasuk logistik yang bisa mencapai miliaran rupiah. Ketika hal ini terbuka, petani akan menyadari bahwa nilai produknya sebenarnya jauh lebih tinggi,” ujarnya, didampingi Direktur PT ALKO Sumatera Kopi Pebriansyah dan Pembina PT ALKO Sumatera Kopi Ridwan Tulus.
Ia menegaskan, keterbukaan informasi menjadi kunci agar petani memiliki posisi tawar lebih kuat di pasar. Dengan memahami rantai nilai, petani tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi bagian dari sistem ekonomi yang lebih adil.
Direktur PT ALKO Sumatra, Pebriansyah, menambahkan bahwa industri kopi memiliki keunggulan dibanding komoditas lain seperti sawit atau kakao.
“Rantai industri kopi relatif lebih pendek. Dari green bean, bisa langsung di-roasting dan menjadi minuman. Bahkan bisa dilakukan dalam skala kecil. Ini membuat pasar kopi lebih terbuka dan tidak terlalu bergantung pada industri besar,” katanya.
Ia menjelaskan, harga kopi juga mengacu pada pasar global yang dapat dipantau secara real-time. Kondisi ini membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan nilai jual melalui pengolahan dan penguatan branding.
“Value itu yang penting. Ketika petani tidak hanya menjual bahan mentah, tapi juga mengolah, maka nilai ekonominya meningkat,” tambahnya.
Koperasi Jadi Penguat Hilirisasi
ALKO mengembangkan model korporasi berbasis koperasi untuk menjawab tantangan petani, terutama terkait ketidakpastian pasar. Dalam model ini, koperasi berperan sebagai off-taker sekaligus penguat hilirisasi di tingkat petani.
Perjalanan ALKO dimulai sejak 2017 dan menghadapi berbagai dinamika pada 2018. Namun, pendekatan profesional terus diperkuat melalui pembentukan unit usaha yang berorientasi pada kesejahteraan anggota.
Dukungan awal juga datang dari World Wide Fund for Nature (WWF), yang membantu pengembangan awal. Salah satu terobosan penting adalah penerapan teknologi blockchain sejak 2019, yang disebut sebagai yang pertama di Asia untuk sektor kopi.
Teknologi ini diperkenalkan oleh mitra dari Jepang, Sasuke Morasaki, dan menjadi fondasi transparansi rantai pasok. Bahkan, dalam waktu singkat, produk ALKO berhasil menembus pasar global dan masuk jaringan Starbucks.
Langkah Ekspor yang Disebut Bersejarah
Sementara itu, Pembina PT. ALKO Sumatera Kopi Ridwan Tulus menilai langkah yang dilakukan PT ALKO Sumatra Kopi merupakan catatan penting yang perlu diketahui dunia.
Ia menyebut, strategi ekspor yang dilakukan perusahaan menjadi terobosan di sektor kopi nasional.
“PT ALKO Sumatra Kopi mencatat langkah tidak biasa dalam ekspor kopi dengan mengirim 10 ton kopi ke Oman melalui jalur udara. Strategi ini dipilih untuk memenuhi permintaan cepat pasar Timur Tengah, meski biaya logistik jauh melampaui harga produk,” ujar Ridwan Tulus yang juga tokoh pakar kepariwisataan Sumatera Barat itu.
Fokus Regenerasi Petani Milenial
Pengembangan kopi juga dilakukan di wilayah Agam melalui pendampingan langsung kepada petani. ALKO menaruh perhatian besar pada regenerasi petani milenial dengan mendorong digitalisasi sektor pertanian.
Selain itu, perusahaan menargetkan kemandirian pembiayaan melalui koperasi, tanpa bergantung pada modal eksternal. Model ini dinilai mampu memperkuat posisi petani dalam rantai nilai kopi.
Secara historis, kopi Sumatera Barat telah dikenal dunia sejak awal abad ke-20. Catatan menunjukkan, pada 1901 kopi dari wilayah ini telah dikenal hingga Eropa, termasuk Norwegia.
Saat ini, produksi kopi yang terhimpun dalam koperasi mencapai sekitar 13.000 ton per tahun dari 41.000 anggota. Namun, serapan oleh ALKO di Sumatera Barat masih di bawah 100 ton per tahun.
Peluang Besar di Pasar Global
Dengan permintaan kopi dunia yang terus meningkat, ALKO melihat peluang besar untuk memperluas pasar ekspor. Strategi ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan petani melalui sistem yang lebih transparan dan berkelanjutan.
“Teknologi dan ekosistem sebenarnya sudah ada. Tantangannya sekarang bagaimana petani memahami nilai produknya dan mengambil peran lebih kuat di pasar,” tutup Suharyono. (***)











