Padang, Kliksumbar – Gagasan pemilihan kepala daerah melalui DPRD tidak sekadar menggeser prosedur. Perubahan ini ikut mengubah peta politik secara menyeluruh. Pertarungan yang semula terbuka di ruang publik bergeser ke ruang tertutup elite. Ukuran kemenangan pun berubah, dari popularitas massa menjadi hitung-hitungan kursi dan koalisi. Dalam kondisi seperti ini, tidak semua tokoh berada di posisi yang menguntungkan.

Vasko Ruseimy menjadi ilustrasi yang paling relevan. Dalam sistem pilkada langsung, ia memperoleh keuntungan dari tingkat keterkenalan, aktivitas lapangan, serta narasi personal yang terus dibangun. Kehadirannya di tengah masyarakat dan konsistensinya di ruang media memperkuat pengenalan publik. Strategi tersebut efektif ketika pemilih menjadi penentu utama.

Situasinya berbeda jika kepala daerah ditentukan DPRD. Popularitas tidak lagi menjadi variabel utama. Penentuan bergeser pada kekuatan fraksi, soliditas partai, dan kesepakatan elite. Dalam konteks ini, figur yang terlalu menonjol secara personal justru berpotensi menimbulkan resistensi.

Bagi anggota DPRD, kandidat yang dianggap ideal bukan yang paling dikenal masyarakat, melainkan yang paling aman bagi stabilitas koalisi. Sosok yang tidak mengganggu keseimbangan internal, tidak membawa risiko elektoral besar, serta mudah dikontrol secara politik lebih disukai. Skema ini memberi ruang lebih besar bagi partai berstruktur kuat seperti PKS, bahkan tanpa kebutuhan membangun popularitas calon sejak awal.

Apabila Vasko tidak masuk dalam kalkulasi kekuasaan DPRD, dampaknya bisa berjangka panjang. Ia berisiko kehilangan panggung strategis untuk membangun rekam jejak eksekutif. Tanpa pengalaman sebagai kepala daerah, modal politiknya menuju Pilgub pada periode berikutnya akan tergerus. Popularitas yang tidak disertai posisi kekuasaan cenderung cepat memudar.

Lebih jauh, ketika DPRD memilih figur kompromi dari internal partai besar, ruang gerak Vasko semakin terbatas. Kekalahan bukan hanya soal mekanisme, tetapi juga soal hilangnya momentum. Dalam praktik politik, momentum kerap lebih menentukan dibanding niat dan kerja keras semata.

Pada akhirnya, kesimpulannya jelas. Ketika kepala daerah dipilih DPRD, kemenangan tidak ditentukan oleh intensitas turun ke masyarakat, melainkan oleh kecermatan mengamankan ruang elite. Dalam situasi tersebut, Vasko bukan tanpa peluang, tetapi jalur menuju kursi gubernur menjadi jauh lebih menantang. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *