Padang, — Ir. Djoni, yang dikenal sebagai Begawan Petani Sumatera Barat, kembali menarik perhatian publik lewat inovasi pertanian berkelanjutan bernama Sawah Pokok Murah (SPM).
Gagasan ini mengubah cara pandang petani terhadap sawah dan pola budidaya padi tradisional.
Menurut Ir. Djoni, praktik lama seperti membajak dan menggenangi sawah justru merusak struktur tanah dan menaikkan biaya produksi.
“Tanpa bajak, tanpa genangan, hasilnya malah lebih baik,” ujarnya saat tampil di Top 100 Channel, Rabu (28/10).
SPM bukan teknologi mahal, melainkan sistem berbasis kebiasaan petani yang disempurnakan menjadi metode hemat biaya dan ramah lingkungan.
Prinsip utama SPM adalah menjaga tanah agar tidak terbuka.
Jerami dijadikan penutup alami untuk menjaga kelembapan dan kesuburan tanah.
“Jerami menjaga kesuburan, sedangkan plastik tak bisa diurai,” tegasnya.
Konsep ini telah diadopsi ribuan petani gurem di Sumatera Barat, terutama mereka yang memiliki lahan kurang dari setengah hektare.
“SPM kami persembahkan untuk rakyat kecil, agar bebas dari utang pupuk dan biaya produksi,” kata Djoni.
SPM telah diterapkan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Agam, yang kini memiliki lahan percontohan di hampir seluruh kecamatan.
Hasilnya, produktivitas meningkat signifikan.
“Kalau biasanya satu karung, dengan SPM bisa dua,” jelasnya.
Selain meningkatkan hasil panen, SPM juga terbukti adaptif terhadap perubahan iklim dan menekan emisi gas metana dari sawah.
“SPM adalah pertanian rendah emisi karbon. Murah, tapi bukan murahan,” tambahnya.
Djoni menilai SPM bukan hanya inovasi teknis, tetapi gerakan menuju kemandirian pangan nasional.
Ia berpendapat subsidi pupuk sebesar Rp40 triliun per tahun sebaiknya dialihkan untuk edukasi dan sosialisasi sistem mandiri.
“Cukup satu triliun untuk sosialisasi. Petani bisa mandiri tanpa subsidi,” ujarnya.
Kini, Djoni terus menyebarkan semangat pertanian mandiri tanpa bantuan pemerintah.
“Kami tak pakai uang, tapi hasilnya nyata. Derajat petani harus naik,” tutupnya penuh keyakinan. (***)











