Padang, – Literasi kini dianggap sebagai kunci utama untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global dan derasnya arus digitalisasi.
Tanpa kemampuan literasi, anak muda dikhawatirkan akan kesulitan bersaing di era informasi cepat.
Menurut Dr. Candrianto, pemerhati pendidikan di Sumatera Barat, literasi tidak hanya soal membaca dan menulis.
Literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta memilah informasi yang benar.
“Literasi adalah cahaya masa depan. Generasi yang literat akan lebih siap menghadapi tantangan, berdaya saing tinggi, dan berkarakter kuat,” ujarnya, Rabu (21/8).
Lebih jauh, Candrianto menekankan pentingnya literasi digital.
Ia menyebut generasi muda harus cerdas membaca informasi agar tidak mudah terpengaruh hoaks.
“Kalau anak muda tidak dibekali literasi digital, mereka bisa mudah terjebak. Sebaliknya, jika cerdas menyaring informasi, teknologi akan jadi peluang besar untuk belajar, berkreasi, bahkan berwirausaha,” tambahnya.
Dampak literasi juga dirasakan langsung oleh siswa dan mahasiswa di Padang.
Nanda, siswa SMA, mengaku semakin percaya diri berdiskusi setelah membiasakan diri membaca buku.
“Literasi membuat saya lebih berani mengemukakan pendapat, sekaligus menghargai pandangan orang lain,” katanya.
Sementara itu, Meza, mahasiswa di Sumbar, menyebut menulis sebagai cara mengasah kreativitas.
“Dengan menulis, saya bisa menuangkan ide dan berbagi inspirasi,” ujarnya.
Selain individu, keluarga, sekolah, dan pemerintah berperan penting membangun budaya literasi.
Orang tua bisa memberi teladan dengan membaca di rumah, sekolah dapat menghadirkan program literasi kreatif, sedangkan pemerintah perlu menyediakan fasilitas pendukung.
Generasi muda yang literat diyakini akan menjadi generasi emas Indonesia tahun 2045.
“Mari bersama-sama menyalakan semangat literasi. Hanya dengan literasi, bangsa ini bisa melangkah lebih maju dan bermartabat,” tutup Candrianto. (***)











