Jakarta, – Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Hendra J Kede, menyoroti perubahan tren usia Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari masa ke masa.
Ia menyebut, pada era Orde Lama hingga awal Reformasi, Ketua Umum PWI umumnya terpilih di usia muda, bahkan ada yang masih kepala dua.
“Baru sejak 2018, kita menyaksikan Ketua Umum PWI berusia kepala enam. Ini menarik dan layak jadi bahan refleksi menjelang Kongres PWI akhir Agustus 2025,” ujar Hendra, Rabu (7/8).
Ia mencontohkan, Usmar Ismail menjabat pada usia 26 tahun, T. Sjahril di usia 32 tahun, Mahbub Djunaidi pada usia 32 tahun, dan Harmoko ketika berumur 34 tahun.
Menurutnya, regenerasi dan keberanian memberi ruang kepada yang muda pernah menjadi ciri khas organisasi.
“Warisan itu layak dikaji ulang oleh para pemilik suara dalam kongres mendatang,” tegas Hendra.
Berdasarkan data sejarah, usia Ketua Umum PWI saat terpilih bervariasi: Soemanang SH (38), Djawoto (44), BM Diah (53), H. Rosihan Anwar (48), Atang Ruswita (50), Zoelhanrman (50), H. Sofyan Lubis (52), Tarman Azzam (49), H. Margiono (49), Atal S Depari (64), hingga Hendry Ch Bangun (65).
Menurut Hendra, informasi ini penting agar pemilik suara mempertimbangkan sejarah dalam mengambil keputusan.
“Ini bukan soal usia semata, tapi soal energi, pembaruan, dan keberlanjutan,” tutupnya. (***)











