Bukittinggi, – Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya!
Dengan ketinggian 2.891 mdpl, gunung ini dipantau ketat dari Pos Pengamatan Gunung Marapi di Bukittinggi.
Gunung Marapi dikenal sering meletus. Sejak tahun 1807, gunung ini mengalami erupsi dengan jeda waktu bervariasi, mulai dari kurang dari setahun hingga 17 tahun.
Rata-rata, letusan terjadi setiap 3,5 tahun. Sejak 1987, letusan eksplosif selalu berasal dari Kawah Verbeek.
Setiap erupsi, suara gemuruh mengiringi keluarnya abu, lapili, dan terkadang material pijar serta bom vulkanik.
Aktivitas vulkanik ini menandakan adanya suplai magma dari dalam gunung yang terus berlangsung.
Pada 3 April 2025 pukul 07:12 WIB, Gunung Marapi kembali meletus!
Data seismograf mencatat amplitudo maksimum 30,4 mm dengan durasi 1 menit 9 detik.
Kolom abu terpantau mencapai 1.500 meter di atas puncak.
Beberapa hari sebelum letusan, terdeteksi peningkatan aktivitas gempa vulkanik.
Pada 27 Maret 2025, terjadi 4 kali gempa Vulkanik Dalam, disusul 15 kali gempa Vulkanik Dangkal pada 1 April 2025.
Erupsi ini terjadi akibat mekanisme buka-tutup ventilasi kawah yang disebabkan oleh pendinginan lava.
Ketika ventilasi tertutup, gas magmatik terperangkap hingga tekanannya meningkat.
Begitu tekanan mencapai ambang batas, letusan pun terjadi, membuka kembali ventilasi kawah.
Proses ini dapat terus berulang selama suplai magma dari kedalaman masih berlangsung.
Berdasarkan analisis terbaru, aktivitas Gunung Marapi masih berstatus Level II (Waspada).
Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 3 km dari Kawah Verbeek karena ancaman lontaran material.
Berikut rekomendasi resmi dari Badan Geologi:
1. Hindari radius 3 km dari pusat aktivitas.
2. Waspada potensi lahar saat hujan, terutama bagi warga di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Marapi.
3. Jika terjadi hujan abu, gunakan masker untuk menghindari gangguan pernapasan.
4. Jangan sebarkan hoaks terkait aktivitas gunung. Ikuti informasi resmi dari pemerintah.
5. Pemerintah daerah wajib berkoordinasi dengan PVMBG untuk pemantauan terkini.
6. Masyarakat dapat mengakses informasi di:
a. Website Badan Geologi: https://geologi.esdm.go.id
b. Website PVMBG: https://vsi.esdm.go.id
c. Website Magma Indonesia: https://magma.esdm.go.id
d. Aplikasi Magma Indonesia (Google Playstore)
e. Media sosial PVMBG (@pvmbg_)
Tetap waspada dan patuhi rekomendasi demi keselamatan bersama!
Jangan sepelekan tanda-tanda alam yang bisa berujung pada bencana lebih besar.











