Jakarta, Kliksumbar – Kongres VII Ikatan Alumni Universitas Andalas (IKA UNAND) kembali menyita perhatian setelah muncul dua jadwal berbeda menjelang pelaksanaannya.

Namun, setelah dilakukan pertemuan intens dan komunikasi antara para senior organisasi, kedua jadwal tersebut akhirnya dipadatkan menjadi satu hari, yakni 29 November 2025.

Panitia menetapkan keputusan ini untuk memastikan pelaksanaan kongres berjalan lebih terarah dan solid.

Setelah penyatuan jadwal, dua kubu yang sebelumnya berbeda pandangan sepakat mendorong kongres yang berdampak bagi kemajuan organisasi.

Meski demikian, dinamika internal menunjukkan belum muncul tanda-tanda pemilihan Ketua Umum secara aklamasi.

Sebaliknya, semakin banyak nama calon ketua umum yang muncul menjelang kongres.

Menurut sejumlah pemerhati, kondisi ini mengarah pada kemungkinan voting.

Namun, sebagian senior menilai mekanisme tersebut kurang ideal bagi organisasi yang mengutamakan kebersamaan.

Alumni senior UNAND, H. Fahmiron, menyampaikan pandangannya mengenai dinamika tersebut.

“Ini yang harus kita sikapi. Jika pemilihannya voting, IKA UNAND terlihat condong ke pola politik praktis. Seharusnya organisasi ini mengutamakan silaturahmi, sehingga musyawarah mufakat menjadi pilihan terbaik,” ujar Fahmiron.

Ia menegaskan bahwa pemilihan ketua umum secara aklamasi akan menghindari perpecahan internal.

Menurutnya, mekanisme voting berpotensi membelah alumni ke berbagai kubu.

“IKA UNAND itu organisasi sosial yang menjunjung silaturahmi. Tidak ada kepentingan politik di dalamnya. Jadi saya kurang sepakat melihat pola demokrasi yang mulai didorong panitia,” jelasnya.

Fahmiron tetap yakin banyak pemilik suara mendukung aklamasi.

Ia mengatakan banyak tokoh UNAND yang memiliki komitmen menjaga nilai musyawarah.

“Tokoh UNAND itu banyak dan menjunjung mufakat. Banyak calon boleh muncul, tetapi keputusan akhirnya tetap harus mengutamakan persatuan,” tambah Fahmiron.

Sampai Rabu, 26 November 2025, panitia mencatat sejumlah nama besar telah mendaftar sebagai calon ketua umum.

Di antaranya Shadiq Pasadigue, Denny Abdi, Maigus Tinus, serta Dr. Prim Haryadi yang direkomendasikan sejumlah pengurus provinsi.

Anggota Steering Committee (SC) Kongres VII IKA UNAND, Adrian Tuswandi, turut memberikan penjelasan mengenai dinamika tersebut.

“Metode pemilihan ketua umum masih dalam pembahasan SC. Kongres tetap menjadi pemegang kekuasaan tertinggi, sehingga keputusan final akan ditetapkan para pemilik suara,” ujar Adrian.

Ia menilai banyaknya calon ketua umum merupakan hal wajar.

“Kita lihat saja pergerakannya. Bisa saja sejumlah calon hanya menguji situasi. Dalam kondisi sekarang, aklamasi tetap relevan karena IKA UNAND membutuhkan ketua umum yang kuat, mampu menjadi penyangga bagi puluhan ribu alumni di seluruh dunia,” tambah Adrian. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *