Padang, Kliksumbar – Setiap hari, Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tampak sibuk seperti jantung yang terus berdetak. Pesawat datang dan pergi tanpa jeda. Roda ekonomi bergerak. Keluarga mengantar perantau pulang merantau, jamaah haji berangkat dengan haru, dan pelancong menjejakkan kaki di ranah Minang dengan harapan baru.

BIM berdiri megah. Namun di balik kemegahan itu, ada satu nama yang nyaris tak pernah disebut dalam narasi resmi: Bahrum Hikmah Rajo Sampono.

Nama itu tidak terpampang di papan peresmian. Tidak juga sering disebut dalam seremoni. Padahal, banyak yang percaya, tanpa keberanian Bahrum, bandara kebanggaan Sumatera Barat ini mungkin hanya akan menjadi rencana panjang yang terus tersangkut, berdebat, bertabrakan, dan akhirnya berhenti di atas kertas.

Tanah Ulayat: Bukan Sekadar Lahan, Tapi Harga Diri

BIM dibangun di atas sekitar 458 hektar tanah ulayat Nagari Ketaping, wilayah yang tidak hanya luas, tetapi juga sarat nilai adat. Di Minangkabau, tanah ulayat bukan benda mati yang gampang dipindah tangan.

Tanah ulayat adalah marwah kaum, warisan turun-temurun, dan identitas nagari. Menyentuhnya tanpa restu adat bisa memantik konflik sosial yang panjang. Banyak proyek besar di Indonesia tersendat bahkan gagal karena persoalan serupa.

Di titik paling genting itulah Bahrum berdiri.

Ia tidak datang sebagai pejabat tinggi. Tidak membawa jabatan negara. Namun ia membawa sesuatu yang lebih berat dari sekadar tanda tangan: kepercayaan adat.

Saat Orang Lain Menjaga Jarak, Bahrum Memilih Maju

Dalam situasi seperti itu, tak banyak orang berani tampil menjadi “penanggung jawab”. Sebab risikonya bukan main.

Namun Bahrum justru mengambil peran yang sulit dijelaskan dengan angka dan administrasi. Ia berdiri sebagai penjamin adat, memastikan tanah ulayat bisa digunakan, dan pembangunan bandara tidak meledak menjadi konflik berkepanjangan.

Ia menjadi jembatan kepercayaan di tengah dua arus besar: negara yang membawa proyek, dan masyarakat yang menjaga warisan.

Keputusan itu bukan keputusan ringan.

Jika suatu saat terjadi gejolak, jika muncul penolakan, jika timbul perkara, nama Bahrum-lah yang pertama disorot. Ia bisa kehilangan wibawa, bisa kehilangan kehormatan, bahkan bisa berhadapan dengan masalah adat dan sosial.

Namun ia tetap melangkah.

Di saat banyak orang memilih aman, Bahrum memilih bertanggung jawab.

Pahlawan yang Bekerja Dalam Senyap

Waktu berjalan. BIM akhirnya berdiri. Bandara itu menjadi kebanggaan Sumatera Barat, menjadi pintu gerbang baru, dan menjadi penghubung ranah dengan dunia luar.

Tapi ada yang ironis.

Ketika BIM selesai dan semua orang memuji kemegahannya, peran Bahrum justru tenggelam. Narasi pembangunan lebih sering mengingat pejabat, kebijakan, dan seremoni. Namun sering lupa pada tokoh adat yang bekerja dalam senyap—yang menanggung risiko paling besar sejak awal.

Padahal, dalam banyak pembangunan besar, keberhasilan bukan hanya soal anggaran atau kontraktor. Keberhasilan juga ditentukan oleh satu hal yang sering tak tercatat dalam laporan: kepercayaan masyarakat.

Dan di Ketaping, kepercayaan itu pernah dijaga oleh seorang tokoh adat bernama Bahrum Hikmah Rajo Sampono.

Mungkin itulah takdir banyak orang yang benar-benar berjasa. Ia tidak lahir untuk disebut-sebut. Ia lahir untuk memastikan sesuatu berjalan.

BIM berdiri megah.

Namun sejarah masih menyimpan pekerjaan rumah: mengembalikan nama Bahrum ke tempat yang seharusnya. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *