Padang Pariaman, Kliksumbar, – Pagi itu, Selasar Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tampak berbeda. Bukan deru koper atau panggilan keberangkatan yang paling terasa, melainkan senyum-senyum harap dari puluhan warga Sumatera Barat. Jumat (23/1/2026) menjadi hari yang tak biasa bagi mereka. Hari ketika langkah baru benar-benar dimulai.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), BIM menyalurkan bantuan ramah difabel berupa kaki palsu, kacamata baca, dan buku Braille. Bantuan ini menjadi pembuka agenda TJSL BIM sepanjang 2026, sekaligus bagian dari komitmen InJourney Ramah Difabel yang terus dijalankan secara berkelanjutan.

Bagi sebagian penerima, bantuan tersebut bukan sekadar alat. Ia adalah harapan. Ia adalah kesempatan untuk kembali berdiri, membaca, bekerja, dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

42 Pasang Harapan untuk Melangkah Kembali

Sebanyak 42 warga Sumatera Barat menerima kaki palsu dalam kegiatan tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah—12 orang dari Kota Padang, 5 orang dari Padang Pariaman dan Pariaman, 8 orang dari Tanah Datar, 10 orang dari Pasaman, serta 7 orang dari Agam.

General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, menyebut program ini sebagai bentuk kepedulian nyata perusahaan terhadap masyarakat sekitar bandara dan Sumatera Barat secara luas.

“Bantuan ramah difabel ini merupakan agenda rutin yang kami jalankan setiap tahun. Kami ingin BIM hadir sebagai bandara yang inklusif dan peduli terhadap kebutuhan masyarakat,” ujar Dony.

Dengan kaki palsu yang kini terpasang, banyak penerima berharap dapat kembali beraktivitas secara mandiri, bahkan kembali bekerja demi menghidupi keluarga.

Mata Anak-anak Kembali Menatap Masa Depan

Sehari sebelumnya, Kamis (22/1/2026), kepedulian BIM juga menyentuh dunia pendidikan. Program pemeriksaan mata dan pembagian kacamata baca digelar di sejumlah sekolah dasar di Kota Padang dan sekitarnya.

Dari 674 siswa yang menjalani pemeriksaan, 197 siswa dinyatakan membutuhkan dan menerima kacamata baca. Sekolah yang menjadi lokasi kegiatan antara lain SDN 21 Batang Anai, SDN 31 Pasir Kandang, SDN 28 Padang Sarai, SDN 24 Batang Anai, serta SDN 06 Pasir Kandang.

Bagi anak-anak itu, kacamata bukan sekadar bingkai. Ia adalah jendela baru untuk belajar, membaca, dan meraih cita-cita.

Huruf Braille dan Pohon Harapan

Tak berhenti di situ, BIM juga menyalurkan 52 buku Braille bagi penyandang tunanetra. Buku-buku tersebut diberikan kepada 7 siswa SLB Autis Wacana Asih dan 45 anak panti asuhan di berbagai daerah Sumatera Barat.

Kepedulian BIM juga merambah lingkungan hidup. Sebanyak 3.000 batang pohon ditanam di sejumlah wilayah, mulai dari Padang Pariaman, Kota Payakumbuh, Sumpur Kudus Selatan, Agam (Kan Lasi Canduang), Tapian Puti Lubuk Alung, hingga Bandar.

Komitmen yang Terus Menyala

Founding Father Kick Andy, Ali Sadikin, menyampaikan bahwa program InJourney Ramah Difabel telah berjalan konsisten selama enam tahun terakhir.

“Alhamdulillah, ini sudah tahun keenam kami bersama InJourney menjalankan program Ramah Difabel. Kami berkomitmen untuk terus hadir dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Wakil Bupati Rahmat Hidayat menilai program ini sangat membantu warga dalam mengatasi berbagai keterbatasan sosial.

“Hari ini, keinginan warga untuk memiliki kaki palsu, kebutuhan membaca, hingga buku Braille bagi tunanetra, dapat terwujud berkat uluran tangan InJourney melalui BIM,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya memberi manfaat fisik, tetapi juga membangkitkan semangat hidup dan membuka peluang ekonomi bagi keluarga penerima.

“Dengan alat bantu ini, warga diharapkan bisa kembali bekerja dan beraktivitas, sehingga perekonomian keluarga ikut meningkat,” pungkasnya.

Di Selasar BIM hari itu, langkah-langkah baru pun dimulai. Perlahan, namun penuh harapan. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *