Padang, Kliksumbar – Hujan lebat yang mengguyur Sumatera Barat selama beberapa hari terakhir memicu bencana di berbagai daerah.
Berdasarkan laporan terbaru, tujuh kabupaten dan kota mengalami dampak banjir, longsor, maupun angin kencang.
Kondisi ini membuat masyarakat semakin waspada karena curah hujan diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Juru Bicara BPBD Sumatera Barat, Ilham Wahab, menyampaikan bahwa tujuh daerah terdampak terdiri dari Kota Padang, Padang Pariaman, Agam, Pesisir Selatan, Tanah Datar, Kota Pariaman, dan Solok.
“Sejauh ini ada tujuh daerah yang melaporkan kondisi bencana yang mereka alami,” ujar Ilham.
Selanjutnya, ia merinci jenis bencana di setiap wilayah. Ia menyebut Kota Padang mengalami angin kencang dan banjir di beberapa kecamatan.
Kemudian, Kabupaten Padang Pariaman terdampak banjir cukup luas dengan sekitar 3.000 rumah terendam.
Selain itu, lahan pertanian dan saluran irigasi juga mengalami kerusakan.
“Daerah itu juga mengalami longsor, dan kerugian sementara diperkirakan lebih dari Rp 4 miliar. Di Agam terjadi banjir bandang,” jelasnya.
Sementara itu, Kabupaten Pesisir Selatan mengalami banjir yang menggenangi Jalan Nasional Lintas Barat Sumatera.
Situasi tersebut memengaruhi kelancaran transportasi antara Sumatera Barat, Bengkulu, dan Kerinci Jambi.
Kemudian, jalur strategis di kawasan itu mengalami perlambatan arus kendaraan karena tingginya genangan.
Ilham menegaskan bahwa pihaknya sudah meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan.
“Kami sudah meneruskan peringatan BMKG kepada daerah agar meningkatkan kewaspadaan dan bersiap siaga darurat,” tambahnya.
Di sisi lain, BMKG mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Barat hingga 27 November mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer saat ini mendukung pertumbuhan awan hujan berskala besar.
“Ada peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan yang berdampak pada peluang cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, petir, dan jalan licin,” kata Desindra.
Ia menambahkan bahwa penguatan Monsun Asia memengaruhi peningkatan cuaca ekstrem.
Sistem sirkulasi angin ini, lanjutnya, terjadi akibat perbedaan tekanan udara antara Benua Asia dan Samudra Hindia atau Pasifik.
“Sistem ini membawa perubahan signifikan pada pola cuaca dan iklim di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia Utara,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, BPBD dan BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan memantau laporan resmi.
Selain itu, pemerintah daerah memastikan infrastruktur pengendali bencana berfungsi optimal, terutama pada kawasan rawan banjir dan longsor.(***)











