Oleh: Founder Green Tourism Institue, Ridwan Tulus

 

Seorang kepala sekolah internasional terbaik di Jakarta yang berkebangsaan Inggris tiba-tiba menelepon saya langsung dan mengatakan bahwa mereka ingin study tour ke Ranah Minang untuk anak-anak grade IX (kelas 3 SMP) selama seminggu.

Walaupun awalnya saya menolak, tapi dia berharap.

Dan saya akhirnya menyanggupi dan nanti akan mendesainkan program khusus untuk sekolahnya.

Tapi, kagetnya dia bilang, “Tidak usah!” dan mengatakan bahwa mereka sudah punya programnya.

“Saya bilang, ‘Kalau Anda sudah punya program, untuk apa lagi menghubungi saya?

Karena saya belum tentu tertarik menjalankan program Anda!’” jawab saya tegas.

Lalu dia langsung bilang bahwa dia baru saja dapat referensi tentang kami dari salah satu sekolah terbaik di Inggris yang telah membuat program rutin tahunan dengan saya.

Lalu saya langsung jawab oke dan minta dia mengirimkan programnya kepada saya untuk saya pelajari.

Setelah mendapat email program darinya, saya langsung pelajari.

Dan setelah itu saya menelepon kembali dan mengatakan, “Pak, kalau program Anda seperti ini, Anda tidak harus menghubungi saya, karena travel manapun bisa melakukannya.

Dan kalau Anda mau program ini, harus saya ubah!” ujar saya tegas.

Karena saya melihat programnya hanya seperti program wisata biasa dan sedikit sekali nilai edukasinya.

Lalu dia langsung memohon dan meminta saya untuk tidak mengubahnya karena sudah mendapat persetujuan dari yayasan dan orang tua murid, dan bahkan sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Dan kalau saya mengubahnya sekarang, dia merasa malu.

Dan karena keterus-terangannya, saya langsung bilang oke tapi dengan catatan saya dapat mengubah programnya di lapangan kalau seandainya ada kendala.

“Gentlemen agreement,” kata saya.

Dan dia pun sangat senang dan setuju dengan permintaan saya.

Singkat cerita, program pun berjalan dan para peserta sudah datang di Bandara Internasional Minangkabau sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Waktu itu yang mendampingi murid-murid adalah wakil kepala sekolahnya yang berkebangsaan Filipina.

Dan waktu itu muridnya baru satu kelas, 19 orang.

Sesuai program, selama lima malam mereka hanya menginap di hotel berbintang terbaik di Bukittinggi.

Tapi kagetnya, ketika anak-anak ini baru saja check-in dan mendapatkan kunci kamar, semua tamu yang menginap di sana mengeluh.

Anak-anak ini nakalnya luar biasa.

Mereka mengetuk kamar orang lain keras-keras dan lari!

Hampir semua lantai!

Ada ibu-ibu yang keluar hanya mengenakan handuk karena dikira ada kejadian darurat di hotel tersebut.

Karena di setiap kamar ada telepon dan bel, tapi kenapa digedor, berarti ada kejadian darurat!

Beberapa tamu turun ke bawah dan menanyakan hal ini ke pihak hotel.

Setelah dicek CCTV, ternyata anak-anak inilah pelakunya.

Di CCTV terlihat jelas mereka naik lift dan keluar di lantai yang berbeda, menggedor hampir semua kamar, lalu lari sambil tertawa riang.

Duh, betul-betul keterlaluan!

Setelah mengetahui semua itu ulah dari anak-anak kami, sebagai dampaknya saya bersama wakil kepala sekolahnya dimaki-maki oleh para tamu yang menginap di hotel tersebut.

Bahkan ada yang minta kami untuk segera check-out! Astaga.

Lalu saya langsung mengambil inisiatif untuk meminta maaf kepada semua tamu yang terganggu dan menjamin bahwa kejadian itu tidak akan terjadi lagi. Kepada pihak hotel pun kami meminta maaf.

Lalu sang wakil kepala sekolah minta maaf atas kenakalan murid tersebut kepada saya.

Dan saya pun dengan sedikit emosi langsung bilang, “Saya bisa MERUBAH ANAK-ANAK INI DALAM WAKTU 2 JAM!”

Wakil kepala sekolah tersebut kaget dengan penuh ketidakpercayaan menanyakan kepada saya, “Apa? Kamu bisa mengubah anak-anak ini dalam waktu 2 jam? How?” katanya.

Dan saya langsung meminta dia untuk membacakan program untuk keesokan harinya.

Setelah itu saya katakan bahwa besok saya akan mengubah sebagian programnya.

Saya menerangkan bahwa saya sudah punya perjanjian ‘Gentlemen Agreement’ dengan kepala sekolahnya bahwa saya punya hak untuk mengubah program jika ada kendala.

“Anda boleh telepon kepala sekolah Anda sekarang kalau tidak percaya,” saran saya.

“Tidak. Saya percaya Anda dan saya tidak akan menelepon kepala sekolah saya. Kalau bisa, dia tidak boleh tahu tentang kejadian yang memalukan ini,” pintanya.

Lalu dia menanyakan apa program penggantinya untuk besok.

Langsung dengan spontan dan tegas saya jawab, “Panti Asuhan!”

Lalu dia dengan penuh emosi mempertanyakan apa hubungan mengubah anak-anak ini dengan panti asuhan.

Karena sudah kesal, saya membalas, “Kamu mau tidak?” Dia dengan terpaksa menjawab, “Oke lah,” walaupun tidak sampai 50% kepercayaannya.

Ketika dia mengatakan oke, justru saya yang bingung karena ide tersebut secara spontan saja keluar dari mulut saya.

Saya bingung karena untuk kunjungan ke panti, kalau tidak menyumbang rasanya tidak enak.

Dan kalau saya minta sumbangan dari mereka, duh… sangat tidak profesional, dan dia akan berpikir saya menangguk di air keruh.

Akhirnya saya anggarkan dana 2,5 juta dari kantong pribadi untuk disumbangkan.

Lalu saya minta tim saya untuk mencari panti asuhan yang paling miris keadaannya di sekitar Bukittinggi.

Dan dapat info ada Panti Nurul Haq di Padang Lua.

Saya langsung minta untuk mengatur kunjungan ke sana esok siang dan oke.

Paginya sebelum kunjungan, saya langsung ke panti tersebut untuk melihat kira-kira apa yang bisa disumbangkan.

Saya lihat anak-anak sedang sarapan dan saling bercanda.

Tapi ketika melihat lebih dekat, sepertinya mereka hanya makan nasi putih doang! Duh, miris!

Akhirnya saya temui pengurusnya dan saya berbohong, “Ibu, apa sudah ada telepon dari pimpinan saya kemarin untuk kunjungan anak-anak sekolah ke sini?” Lalu dia jawab sudah dan merasa senang.

“Ibu, kemungkinan anak-anak sekolah ini patungan. Kira-kira apa yang bisa kami bawa?” Saya ingin mendengar langsung kebutuhannya.

Saya sengaja tidak menyebut sekolah internasional karena terlalu jauh perbedaannya.

Sekolah internasional bisa dipastikan sekolah anak-anak orang kaya.

Dan ibu tersebut langsung menjawab, “Nak, belikan saja Indomie.”

Duh! Jawaban ibu tersebut membuat saya terpukul.

Mendengar permintaan yang terlalu sederhana tersebut membuat hati saya semakin miris.

Lalu saya langsung ke pasar dan membeli sembilan kebutuhan pokok plus komputer (karena saya lihat tidak ada komputer di panti).

Dari anggaran awal 2,5 juta, langsung jadi sekitar 10 juta.

Saya datang lebih awal sebelum rombongan, membawa barang yang akan disumbangkan.

Saya lalu menelepon guide saya dan meminta agar anak-anak nanti yang membawa hadiah tersebut ke panti.

Saya meminta guide untuk mengatakan bahwa ini adalah “sumbangan mereka”.

Anak-anak pun sangat bersemangat membawa hadiah ke panti. Beras 20 kg mereka angkat bertiga, tapi semangat.

Tapi mereka lupa bahwa mereka harus melewati pematang sawah.

Dan hampir semua terpeleset.

Tapi alhamdulillah, semua hadiah tidak ada yang jatuh ke sawah meski hampir semua mereka berkubang lumpur.

Mereka betul-betul berusaha keras menyelamatkan hadiah tersebut walaupun risikonya mereka harus basah kuyup.

Setelah sampai di panti, kami atur permainan-permainan yang membuat mereka dekat satu sama lain. Tidak ada jarak.

Setelah saya lihat suasana cair dan kondusif, saya meninggalkan mereka yang sedang asik bermain untuk kembali ke hotel.

Ini sambungan cerita dari wakil kepala sekolahnya.

Ketika acara selesai, anak-anak kembali ke bus dan anak-anak panti melambaikan tangan perpisahan.

Mereka saling melambai. Haru.

Lalu di bus, sang wakil kepala sekolah bicara tegas di depan murid-murid, “Lihat tuh, teman kamu begitu senang dikunjungi!” (sambil menunjuk ke arah panti).

“Kamu tahu tidak? Yang sumbangan tadi bukan dari kita karena program ini mendadak. Sekarang saya minta izin kepada kamu semua. Kita masih punya uang 1 juta, boleh tidak untuk disumbangkan saja ke panti tersebut?”

Tapi di luar dugaan anak-anak menjawab kompak, “Tidak, Pak! Jangan!”

Sang wakil kepala sekolah sangat gondok mendapat penolakan dari murid-muridnya.

Tapi Subhanallah, beberapa anak langsung berdiri dan mengatakan, “Biar kami yang patungan, Pak!”

Lalu mereka patungan dan terkumpul uang 3,5 juta dan mereka lari bersama ke panti untuk memberikannya.

Mereka saling berpelukan lagi. Lebih haru.

Dan ketika kembali ke hotel, saya kaget melihat anak-anak mengambil kunci kamar dari resepsionis dengan tertib, berbaris satu per satu. Sangat tertib. Satu baris!

Wakil kepala sekolahnya langsung menemui saya di bar dan memeluk saya sambil menangis.

“Maafkan saya, Ridwan. Saya laki-laki, tapi menangis di depan kamu karena saya tidak tahan melihat suasana di panti tadi… dan ternyata kamu benar! Lihat tuh anak-anak yang sedang mengambil kunci,” katanya sambil menunjuk.

“Mereka berbaris satu baris dengan tertib. Kamu benar… bisa mengubah anak-anak ini dalam waktu 2 jam!”

Dan saya akan bicara pada yayasan dan kepala sekolah perihal ini.

Ini adalah program yang sangat luar biasa dan sangat dibutuhkan oleh sekolah seperti kami!”

Akhirnya kami mendesain program khusus untuk sekolah mereka yang jauh lebih bernilai dibanding program sebelumnya, dengan judul Experiential Learning Program in Minangkabau (ELM).

Program tersebut kini masuk ke dalam kurikulum sekolah mereka dan telah menjadi program rutin tahunan.

Dalam program ELM, mereka belajar tentang budaya dan seni, melakukan kegiatan sosial, dan ikut aktif dalam aksi penyelamatan lingkungan seperti penanaman mangrove, transplantasi terumbu karang, dan aktivitas menarik lainnya.

Kami tantang mereka untuk menciptakan karya seni dan budaya dalam waktu dua jam.

Di akhir acara, kami bersama Green Tourism Institute (GTI) selalu memberikan penghargaan kepada mereka sebagai Green Friend of Indonesia.

Dan menurut wakil kepala sekolah yang sekarang sudah menjadi kepala sekolah, saat pertama kali ikut program kami, mereka hanya punya satu kelas di tiap grade.

Tapi Alhamdulillah sekarang sudah punya enam kelas di tiap grade atau sekitar 100 murid.

Dan setelah sekitar 15 tahun programnya berjalan bersama kami, sekolah tersebut sudah menyumbangkan banyak hal di setiap destinasi.

Melalui program yang kami rancang, akhirnya mereka bisa menyelamatkan pantai gersang menjadi taman mangrove yang luas dan indah.

Mereka juga turut menciptakan taman bawah laut yang indah di Kota Pariaman.

We are really proud of you.

And thanks for being a Green Friend of Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *