Padang, Kliksumbar – Perancang wisata dan praktisi pariwisata asal Sumatera Barat, Ridwan Tulus, menilai inovasi Blockchain Treasury yang dikembangkan CEO Alko Sumatra, Suryono, sebagai langkah strategis dalam membangun tata kelola industri kopi yang lebih transparan dan berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Ridwan setelah mengikuti sejumlah diskusi bersama Suryono, termasuk dalam forum Ngopi TOP (Ngobrol Pintar Tour Operator) yang melibatkan petani kopi binaan Alko Sumatra dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Ridwan, Suryono tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas kopi. Ia juga mendorong transformasi tata kelola ekonomi kopi melalui pemanfaatan teknologi digital yang mampu meningkatkan transparansi dan kepercayaan dalam rantai pasok.

“Saya melihat Suryono memiliki visi yang berbeda. Ia tidak sekadar membangun bisnis kopi, tetapi merancang ekosistem nilai yang menghubungkan petani, perusahaan, investor, dan pasar global melalui teknologi yang transparan,” kata Ridwan Tulus di Padang, Kamis (3/9/2026).

Blockchain untuk Transparansi Industri Kopi

Ridwan menjelaskan, konsep Blockchain Treasury yang dikembangkan Alko Sumatra tidak menempatkan blockchain sebagai sekadar tren teknologi.

Sebaliknya, teknologi tersebut digunakan sebagai sistem pencatatan nilai yang terbuka, mudah diverifikasi, dan mampu meningkatkan kepercayaan seluruh pihak yang terlibat dalam industri kopi.

Selain itu, blockchain dinilai dapat membantu menciptakan distribusi nilai ekonomi yang lebih adil. Selama ini, petani sering menghadapi tantangan dalam memperoleh manfaat maksimal dari pertumbuhan industri kopi.

Melalui sistem yang lebih transparan, petani berpeluang mendapatkan posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai ekonomi kopi.

“Yang menarik, Suryono melihat blockchain sebagai infrastruktur kepercayaan. Fokusnya bukan pada teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana teknologi dapat membantu menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sumatera Dinilai Punya Modal Besar

Ridwan menilai Sumatera memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan inovasi ekonomi berbasis kopi dan teknologi.

Wilayah ini dikenal sebagai salah satu penghasil kopi berkualitas dunia. Selain itu, Sumatera memiliki kekayaan budaya, lingkungan, dan komunitas petani yang kuat.

Menurutnya, konsep Blockchain Treasury dapat menjadi jembatan yang menghubungkan aset nyata seperti kopi, petani, dan ekosistem sosial dengan sistem ekonomi digital modern.

Ia menyebut pendekatan tersebut berpotensi menciptakan model bisnis baru yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi daerah penghasil kopi.

Menuju Ekosistem Ekonomi Masa Depan

Ridwan menegaskan bahwa setiap inovasi besar selalu lahir dari keberanian untuk menghadirkan gagasan baru.

Meski konsep Blockchain Treasury masih terus berkembang, ia menilai langkah Alko Sumatra layak mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan.

“Sumatera tidak harus dipandang hanya sebagai penghasil bahan baku. Daerah ini bisa menjadi laboratorium ekonomi masa depan yang mempertemukan sumber daya alam, manusia, budaya, dan teknologi dalam satu ekosistem,” jelasnya.

Ridwan menambahkan, integrasi ekonomi kopi, teknologi blockchain, manajemen treasury, dan dampak sosial dapat membuka peluang baru bagi pengembangan industri kopi nasional.

“Perjalanan menuju sesuatu yang besar selalu dimulai dari sebuah gagasan. Saya melihat keberanian itu ada pada Suryono. Ia mencoba merancang masa depan nilai, bukan hanya menjual kopi,” tutup Ridwan. (***)

Penulis: Gilang Gardhiolla GusveroEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *