Padang, Kliksumbar – Pagi itu, air masih mengalir dari keran-keran rumah warga di Kota Padang. Bagi sebagian orang, aliran itu tampak biasa. Namun, di baliknya, ada kerja senyap yang berlangsung tanpa henti sejak bencana melanda Sumatra Barat pada 25 November 2025.

Di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun, PT Hutama Karya (Persero) memilih bekerja tanpa memutus aliran. Di tengah kerusakan sistem dan tekanan waktu, perusahaan pelat merah ini mengambil langkah bertahap agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.

Komitmen tersebut mendapat perhatian langsung dari Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI periode 2024–2029 Andre Rosiade. Keduanya meninjau langsung progres penanganan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) pascabencana, dengan IPA Gunung Pangilun sebagai salah satu titik utama pada Jumat, (30/1/2026).

Bagi Hutama Karya, pemulihan bukan sekadar memperbaiki pipa, pompa, atau instalasi yang rusak. Lebih dari itu, pekerjaan ini menyangkut kehidupan sehari-hari puluhan ribu warga. Sebanyak 50.977 sambungan rumah di Kota Padang menggantungkan pasokan air bersih dari IPA Gunung Pangilun.

Karena itu, strategi perbaikan dilakukan secara terukur. Tim teknis Hutama Karya membagi pekerjaan ke dalam beberapa tahap, memastikan setiap perbaikan tidak menghentikan distribusi air. Pendekatan ini menuntut ketelitian tinggi, sekaligus kesiapsiagaan penuh di lapangan.

Di tengah proses pekerjaan, air tetap mengalir. Warga masih bisa memasak, mandi, dan menjalani aktivitas harian. Inilah prinsip yang dipegang Hutama Karya: pelayanan publik harus tetap berjalan, bahkan di saat kondisi belum sepenuhnya pulih.

Langkah ini menjadi cerminan peran Hutama Karya dalam penanganan pascabencana. Perusahaan tidak hanya hadir sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai penjaga kebutuhan dasar masyarakat. Di balik deru mesin dan pekerjaan konstruksi, ada upaya memastikan rasa aman dan keberlanjutan hidup warga.

Dari IPA Gunung Pangilun, Hutama Karya kembali menegaskan bahwa pemulihan infrastruktur bukan hanya soal bangunan dan sistem. Ini tentang menjaga aliran kehidupan, setetes demi setetes, untuk Sumatra Barat. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *