Aceh Tamiang, Kliksumbar – sebulan lebih tiga hari banjir bandang mendera daerah ini, semua terendam, semua tenggelam, puing peradaban dan material lumpur tinggi masih menyelimuti daerah tersebut.

Dari Medan, lebih kurang 3 jam ke daerah paling parah diterjang banjir bandang, negara, rakyat, dan relawan bersinergi merehab kota pinggir sungai itu kembali ke peradabannya, lagi.

Puluhan alat berat, ribuan relawan berbagai instansi dikirim ke Tamiang, untuk obat luka, memulihkan nestapa.

Duka Tamiang adalah duka Nusantara, berhentilah menangis Tamiang kami.

Don’t cry Tamiang, Tamiang will never walk alone, dan Indonesia stand with Aceh Tamiang.

“Awal bencana hingga dua tiga hari pasca bencana ada rasa bahwa Tamiang dibiarkan bangkit sendiri, tapi kekinian kami tahu bahwa negara dan jajarannya, bangsa Indonesia, tidak akan membiarkan Tamiang bangkit sendiri,” ujar Guru SDIT Wulandari, Minggu, (28/12/2025), di Tamiang.

Sudah banyak perubahan, seminggu pasca bencana, kata pemerhati bencana banjir Aceh Tamiang, Khairian, banyak daerah yang masih tinggi lumpurnya.

“Tapi sekarang setelah presiden dua kali datang, dan BUMN bersatu padu berjibaku saat tanggap darurat dan masa transisi, banyak kemajuan, termasuk telah mulai dibangun hunian sementara di dekat Masjid Darussalam oleh BUM Karya, Himbara, Pertamina, dan PLN,” ujar Rian.

Tamiang, daerah di timur Aceh, berada sepanjang aliran Sungai Tamiang. Di sini, tanah Tamiang ini pernah menjadi saksi lahirnya salah satu peradaban Melayu tertua di Sumatra.

Jauh sebelum peta politik modern digambar, Tamiang itu telah hidup sebagai simpul perdagangan, budaya, dan keyakinan.

Namun, seperti banyak peradaban besar lain, jejaknya kini terkubur perlahan, senyap oleh lumpur sungai dan waktu. Apalagi lumpur dahsyat 25 November 2025, butuh waktu lama untuk Tamiang pulih.

Dua kali, dan infonya mau ketiga kali, Presiden RI Prabowo Subianto ke Tamiang ini. Presiden ingin membersamai pulih cepatnya negeri peradaban Melayu tua itu.

Semua sumber daya negara dikerahkan untuk memulihkan peradaban dan kehidupan di Tamiang.

Sungai Tamiang dulu, pada abad ke-7 Masehi, sudah melahirkan peradaban dari data sejarah, bukan sekadar aliran air. Ia adalah nadi kehidupan.

Di tepian sungai itulah, perkampungan awal Melayu tumbuh, perahu dagang bersandar, dan bahasa Melayu purba dipertukarkan bersama rempah, kapur barus, serta hasil hutan. Bahkan jalur air ini menghubungkan pedalaman Sumatra dengan Selat Malaka, menjadikan Tamiang pintu masuk dunia luar.

Dari sumber literasi kuno menyebut wilayah ada di pesisir timur Sumatra yang makmur dan teratur. Bahkan para sejarawan menduga, salah satunya adalah Tamiang, kerajaan Melayu tua yang telah eksis sejak abad ke-7 Masehi.

 

Lumpur sebagai Arsip Alam

Tidak seperti Borobudur yang menjulang atau prasasti yang dipahat di batu, peninggalan Tamiang rapuh, kayu, tanah, dan tradisi lisan. Setiap banjir besar Sungai Tamiang membawa lumpur yang menutup lapisan demi lapisan permukiman lama.

“Lumpur bukan sekadar bencana. Ia adalah kabar dari alam, menyimpan sisa tiang rumah, jalur pelabuhan kuno, hingga artefak yang belum sepenuhnya terungkap,” ujar Herdian, anak muda penggiat sejarah di Tamiang, Minggu, 28/12/2025.

Menurut dia, semua peradaban yang ditimbun lumpur dulu tanpa penggalian serius, lumpur juga menjadi penutup sejarah.

 

Tamiang Penganut Islam Awal Sumatra

Tamiang menempati posisi unik dalam sejarah Islam Nusantara.

Di Tamiang, Islam datang lebih awal, menyatu dengan adat Melayu. Para pedagang Arab dan Gujarat tidak hanya membawa barang dagangan, tetapi juga keyakinan.

“Tapak Islam awal ini tidak selalu berbentuk bangunan megah. Tapi hidup secara turun-temurun di sistem adat, bahasa, hukum keluarga, dan struktur kepemimpinan lokal. Semua itu diwariskan dari generasi ke generasi, meski fisik kerajaannya menghilang,” ujar Herdian.

 

Ketika Sejarah Tenggelam

Perubahan alur sungai, pendangkalan, dan perpindahan pusat ekonomi membuat Tamiang perlahan kehilangan perannya. Ketika Kesultanan Aceh Darussalam menguat dan kolonialisme datang, Tamiang pun menjadi daerah pinggiran.

Peradaban yang pernah berdiri di pusat lalu lintas dunia Melayu itu akhirnya tersisih. Rumah-rumah panggung berpindah, pelabuhan membisu, dan lumpur menutup jejak-jejak awal.

 

Identitas yang Bertahan

Meski peradabannya tak lagi tampak, identitas Melayu Tamiang tetap hidup, dalam bahasa sehari-hari, dalam adat istiadat, dalam pantun, petuah, dan hukum adat dalam Islam yang berakar kuat namun bersahaja.

“Sampai kapan pun, Tamiang boleh saja kehilangan istana dan prasasti, tetapi tidak kehilangan jiwanya,” ujar Rian, jebolan Universitas Sumatra Utara.

 

Menyelamatkan yang Tersisa

Hari ini, Tamiang sebagai kabupaten terparah dihantam banjir bandang di Aceh. Tetap dikenang bahwa di bawah tanahnya tersimpan cerita lama yang belum selesai ditulis.

“Tanpa riset arkeologi, dokumentasi sejarah, dan kesadaran kolektif, peradaban Melayu awal ini akan terus terkubur, bukan hanya oleh lumpur, tetapi oleh lupa. Ayo Tamiang ku, tetap optimis, meski sering diterjang bencana, tetap barakan semangat bangkit kembali jadi peradaban Melayu kuno menjiwai anak kembaka Melayu modern kini,” ujarnya.

Meski Tamiang ditimbun lumpur, tapi sejak dulu kala, Tamiang adalah pengingat bahwa tidak semua peradaban runtuh oleh perang. Bencana alam juga menjadi penyebab ditelannya peradaban, hilang secara perlahan ditelan lumpur, air, dan waktu.

“Tapi selama cerita masih dituturkan, sejarah belum benar-benar mati,” ujar tetua kampung Tamiang, Minggu sore. (***)

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *