Padang, – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) baru saja meluncurkan program inovatif yang menggegerkan publik, penanaman “Pohon Integritas” sebagai simbol komitmen pengawasan pemilu yang jujur dan adil.
Acara yang digelar di Hotel Pangeran Beach, Senin, (30/12/24) ini tak hanya menjadi sorotan lokal, tetapi juga memicu diskusi tentang pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam demokrasi modern.
Dalam pembukaan kegiatan, Gubernur Sumbar melalui Penjabat Sekdaprov Yozawardi Usama menyoroti besarnya pengaruh politik terhadap budaya dan kehidupan sehari-hari.
“Tanpa ideologi yang kuat, anak bangsa bisa kehilangan arah. Oleh karena itu, penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan menjadi kebutuhan mutlak” ujar Yozawardi.
Sejak memasuki era reformasi pada 1998, pemilu di Indonesia terus berkembang menjadi lebih demokratis.
Yozawardi mengungkapkan bahwa keberhasilan pemilu membutuhkan integritas tinggi dari semua pihak, terutama lembaga pengawas pemilu.
“Pemilu yang adil hanya mungkin tercipta jika nilai-nilai Pancasila diimplementasikan dengan konsisten,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yozawardi memuji simbolisasi pohon Manggis sebagai wujud integritas.
“Pohon ini melambangkan kekuatan dan kejujuran. Filosofinya sangat dalam, karena buahnya selalu mencerminkan jumlah isi yang sebenarnya,” tutupnya.
Koordinator Divisi Pencegahan Bawaslu Sumbar, Muhammad Khadafi, menekankan pentingnya pelestarian nilai-nilai Pancasila.
“Pancasila bukan sekadar lambang negara. Ini adalah pondasi yang menjaga demokrasi tetap berkeadilan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan tentang perjalanan panjang reformasi. Pada 1999, 48 partai politik ikut serta dalam pemilu, lalu sistem pemilihan langsung diterapkan pada 2004.
“Proses ini adalah cerminan nyata dari penerapan demokrasi, dan Bawaslu harus menjadi penjaga integritas di setiap langkahnya,” tambah Khadafi.
Sementara itu, Koordinator Divisi SDM dan Diklat Bawaslu Sumbar, Febrian Bartes, menyoroti filosofi mendalam di balik pohon Manggis.
“Filosofi buah Manggis sangat relevan. Berapa jumlah yang tertera di kulitnya, sebanyak itulah isinya. Ini mengajarkan kejujuran,” ujarnya.
Febrian juga menggarisbawahi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika sebagai elemen penting dalam memperkuat solidaritas lembaga pengawasan pemilu.
Kepala Sekretariat Bawaslu Sumbar, Karnalis Kamaruddin, mengingatkan pentingnya pembinaan mental dan spiritual secara berkala.
Hal ini sesuai amanat UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.
“Tujuan utama adalah mewujudkan pemilu yang berkeadilan dan beretika, demi demokrasi Indonesia yang lebih baik,” jelasnya.
Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota Bawaslu kabupaten/kota se-Sumbar dan staf terkait, mempertegas komitmen lembaga ini dalam menjaga demokrasi yang berintegritas. (***)











