Catatan: Khairul Jasmi, Pemred Harian Singgalang
Ini Cikole, seolah setiap sudut sengaja dibuat untuk dikenang. Pukul empat petang. Dua puluh satu derajat, saat yang sama persis seperti Madrid.
Begitulah, ketika saya datang, kabut turun perlahan di Orchid Forest Cikole, Jabar. Dingin menyertainya, merayap di antara pinus yang tegak lurus-lurus, seolah berlomba hendak menjangkau langit.
Ini, Minggu (31/5), keindahan alam seperti datang satu per satu dan bercengkerama di sini. Dan, pengunjung yang ramai, bersama entah siapa, mungkin datang memungut cinta-cinta baru dari lumbung alam, di bawah pokok-pokok pinus. Tak jenuh namun setia.
Matahari sudah tak tampak. Yang ada bola lampu diayun-ayun angin di atas pentas alam, tempat musik dimainkan. Dan, kabut turun lagi. Pelan, menyelinap di sela batang-batang pinus dan orang yang tidak sedang dengan dirinya sendiri.
“Sore di Cikole memang sering begitu,” kata Manajer Palawi-Perhutani, Sumarsono, kepada saya.
Cuma, ia tak menambahkan bahwa dingin yang datang lebih dulu lewat mata sebelum terasa di kulit.
Saya melihat pasutri menahan laju kereta bayi, persis di kafe tempat saya menikmati wedang jahe nan hangat. Lagi, sepasang lagi, dengan selimut hangat di atasnya. Lagi, seorang ayah muda, sekarang melangkah menahan stroller. Di punggungnya tersandang ransel. Isinya mungkin susu dan pakaian si kecil.
Mereka sedang memperkenalkan alam pada anak, walau belum mengerti. Atau, tidak. Karena terpaksa dibawa saja. Apa pun, sedari tadi saat masuk saya sudah terpana.
Ini sebuah kawasan wisata hutan pinus. Jalan setapaknya dari paving block yang rapi, membelah deretan pinus tinggi, dengan beberapa pengunjung berjalan ke arah dalam. Suasananya teduh dan berkabut tipis. Kalau saya perturutkan hati memoto-moto, memori HP bisa penuh seketika.
Kupu-kupu yang Lupa Terbang
Tapi apa pun, kamera HP saya mainkan juga. Antara lain hasilnya.
Di sebuah dinding hijau yang ditumbuhi pakis dan daun-daun merah hati, sebuah papan berdiri: “Orchid Forest Cikole.” Hurufnya putih, anggun, dengan lukisan setangkai anggrek selop di atasnya. Kelopak hijau membuka seperti tangan yang menengadah, menyimpan ungu di tengahnya.
Di kakinya, anggrek-anggrek berbaris dalam pot yang dibalut tali rami. Yang merah jambu menyala paling berani, berdesakan dengan yang putih bersih dan yang kuning malu-malu. Phalaenopsis, kebanyakan, bunga yang seperti kupu-kupu yang lupa terbang. Ia betah di sini, menemani siapa saja yang akan berfoto. Jepret. Bawalah pulang. Jangan bawa jantungnya, sebab besok akan ada yang datang lagi.
Lalu pada jalan setapak yang menurun. Ada jembatan melengkung dari besi hitam. Ramping, seperti punggung kucing yang sedang meregang, menggantung di atas jalan setapak. “Wood Bridge”.
Di bawah pegangannya, lampu kuning menyala memanjang, hangat, membelah remang yang mulai turun. Persis di samping saya, seorang perempuan berjilbab merah muda mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Ia memotret jembatan itu, memotret cahaya, memotret sore yang sebentar lagi habis.
Lalu ada sederet rangka besi hitam berbentuk segitiga, disusun berlapis-lapis hingga membentuk terowongan yang mengecil ke kejauhan. Di sela-selanya tergantung bola-bola lumut dan jauh di dalam, cahaya ungu samar berpendar.
Sepasang muda berhenti di mulutnya. Lelaki berkaus hijau mengangkat ponsel, perempuan berdaster biru muda berdiri menunggu, tersenyum tipis ke arah lensa.
Aduhai, di bawah atap kaca, dunia berubah lembut. Lantainya rumput sintetis berwarna hijau muda. Di atasnya berserak bean bag jingga, tosca, ungu muda. Bak permen yang ditebar tangan kanak-kanak.
Dindingnya hidup: tanaman rambat menjalari rangka besi. Sebagian menggantung dari langit-langit. Menjuntai-juntai. Layu manis seperti rambut yang dibiarkan terurai. Ini ruang yang dibuat untuk meredam dingin Cikole sejenak.
Tak sudah-sudah. Dua lagi.
Pohon-pohon pakis raksasa berdiri anggun. Entah berapa usianya. Daunnya merekah bagai kipas yang terbuka penuh, menyaring cahaya menjadi keemasan yang lembut. Di antaranya, pot-pot anyaman bambu berbentuk guci tinggi berbaris rapi. Bangku-bangku kayu menyatu dengan tanah, dikelilingi semak yang dipangkas.
Ini jembatan gamang dengan pengawas. Papan-papan kayu berwarna jingga membentang lurus ke depan, sedikit melengkung di tengah seperti senyum kekasih. Di kiri-kanan, jaring tali keputihan berdiri sebagai pagar, mengikuti irama jembatan yang bergoyang pelan.
Di seberang, sebuah pos kecil menunggu—P3. Berjalan di antara langit dan tanah, orang diingatkan: kadang yang menggetarkan bukan ketinggian, melainkan percaya bahwa tali-tali tipis itu akan menahan kita sampai seberang. Dan, ia menahan. Selalu menahan, seperti janji.
Bisa jadi di sini, di rimba wisata ini, sejuta janji sudah diikat, sedikit yang dilepas.
Inilah Orchid Forest Cikole, yang membuat “tak jemu mata memandang”. Saya ditemani Sumarsono dan sahabatnya, Martin Haris, penjaga Hutan Anggrek ini. Bisa jadi di sini ada semua, 157 jenis anggrek.
Waktu seolah lebih cepat di sini. Tak lama benar, lampu bertali-temali sudah menyala, juga di tiang-tiang rendah, seolah petang menyerahkan diri pada malam.
Tapi, belum. Pengunjung masih sangat ramai: 2.000 orang. Tadi malah 3.000 orang. Sejak pagi, maksudnya.
Hutan Lintas Indah
Saya sedang berada di kawasan wisata Lintas Hutan Indah, dengan fokus pada lokasi Orchid Forest. Nama yang pas.
Ke hutan nan indah ini, dengan beberapa objek, hampir 60–70 persen pengunjung masuk ke area Orchid. Area ini menonjolkan beragam spot swafoto dengan suasana hutan pinus sebagai daya tarik utama. Juga anggrek.
Fasilitas meliputi penjualan anggrek, pameran, jajanan seperti kopi, roti, kue, dan deretan warung yang membentuk semacam food court, serta wahana seperti flying fox, jembatan gantung, dan kuda tunggang.
Orchid Forest dipandang paling populer berkat strategi pemasaran dan reputasi yang sudah berjalan sejak sekitar 2017, sehingga menarik mayoritas pengunjung muda dan ibu-ibu. Sementara lokasi lain di kawasan ini berkembang pada rentang 2019–2022.
Akhirnya sampai di ujung. Tersedia layanan antar-jemput (shuttle) dari parkiran bawah menuju parkiran atas, sehingga pengunjung tidak perlu berjalan kaki. Opsi berjalan kaki tetap ada, tetapi pengunjung umumnya dianjurkan menggunakan shuttle demi kenyamanan.
Objek wisata ini berada di wilayah Perhutani, sehingga pengelolaannya tetap memperhatikan aspek regulasi kehutanan dan kelestarian lingkungan. Yang mengelola, PT Jala Energy.
Jika Anda ke sini, bukan datang ke rumah kedua, melainkan menjumpai keindahan di rumahnya sendiri. (***)











