Padang, Kliksumbar – Langkah kaki para pelajar terdengar berirama di Lapangan Kantor Gubernur Sumatera Barat, Sabtu (24/1). Di bawah langit Padang yang cerah, gerakan silek tradisi Minangkabau mengalir perlahan, tegas, dan penuh makna. Setiap ayunan tangan bukan sekadar latihan fisik, melainkan upaya menghidupkan kembali jati diri yang hampir tergerus zaman.
Hari itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat resmi meluncurkan Program Silek Tradisi Minangkabau sebagai ekstrakurikuler wajib bagi siswa SMA, SMK, dan SLB se-Sumbar. Sebuah kebijakan yang tidak hanya menyentuh dunia pendidikan, tetapi juga menyentuh akar budaya masyarakat Minangkabau.
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, memandang silek lebih dari sekadar bela diri. Bagi dia, silek adalah ruang pembelajaran karakter yang selama ini mulai jarang ditemui dalam keseharian pelajar.
“Dalam silek, anak-anak belajar menahan diri, menghormati guru, dan memahami batas. Itu nilai yang tidak selalu bisa diajarkan di dalam kelas,” ujarnya.
Di usia remaja yang sarat gejolak, silek hadir sebagai penyeimbang. Latihan rutin melatih kekuatan, kelenturan, dan daya tahan tubuh, sekaligus menjadi tempat menyalurkan energi secara positif. Keringat yang jatuh di arena latihan, menurut Muhidi, adalah bagian dari proses menempa mental dan disiplin.
Lebih dari itu, silek tradisi menanamkan kesabaran dan pengendalian emosi. Setiap gerakan mengajarkan ketepatan waktu, fokus, dan sikap rendah hati. Nilai-nilai inilah yang diyakini mampu membentengi pelajar dari perilaku agresif dan kekerasan.
Sebagai warisan budaya, silek juga mempertemukan pelajar dengan identitasnya sendiri. Di balik jurus-jurus yang dipelajari, tersimpan filosofi adat, etika pergaulan, dan semangat kebersamaan khas Minangkabau. Dari sinilah rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tumbuh secara alami.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimi, mengingatkan bahwa Sumatera Barat pernah memiliki sekitar 200 aliran silek tradisional. Kini, hanya sekitar 50 aliran yang masih bertahan.
“Kalau tidak kita wariskan sekarang, silek bisa hilang pelan-pelan,” katanya.
Di tengah gempuran dunia digital, Vasko justru melihat peluang. Ia mendorong pelajar memanfaatkan media sosial untuk menampilkan sisi positif silek tradisi, agar budaya lokal tidak kalah oleh arus konten global.
Di balik kebijakan ini, Dinas Pendidikan Sumbar telah menyiapkan modul pembelajaran yang terstandar. Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Habibul Fuadi, menjelaskan bahwa ekstrakurikuler silek tradisi sebenarnya sudah berjalan sejak Juli 2025, namun baru kini memiliki panduan yang seragam.
“Dengan modul ini, silek tidak lagi sekadar kegiatan tambahan, tetapi bagian dari penguatan karakter pelajar Sumatera Barat,” jelasnya.
Silek tradisi kini tak hanya hidup di sasaran latihan atau gelanggang adat. Ia kembali menemukan rumahnya di sekolah-sekolah. Di sanalah, generasi muda Sumatera Barat diajak belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada seberapa keras menyerang, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menjaga warisan leluhur. (***)











